Sabtu, 25 Februari 2017

Ekonomi

Harga-harga Naik pada Awal 2017, Coba Lakukan Strategi Finansial Ini

Jumat, 6 Januari 2017 | 12:00 WIB
SHUTTERSTOCK Ilustrasi uang

JAKARTA, KOMPAS.com - Tahun 2017 dibuka dengan kabar tentang kenaikan berbagai harga barang. Mulai dari kenaikan tarif listrik untuk pelanggan setrum golongan 900 VA.

Kemudian, kenaikan tarif layanan pengurusan surat-surat kendaraan bermotor, lalu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang serempak dikerek oleh Pertamina.

Sampai harga berbagai kebutuhan pokok yang enggan turun. Di pasar tradisional, bahkan harga cabai sudah semakin tak terkendali mencapai ratusan ribu rupiah per kilogram.

Di sisi lain, banyak prediksi menyebutkan, kondisi perekonomian tahun 2017 bakal penuh tantangan. Harga minyak diramal kembali merangkak naik.

Suku bunga kredit perbankan juga diprediksi masih sulit melandai karena suku bunga The Federal Reserves Amerika Serikat diperkirakan akan naik hingga tiga kali pada 2017.

Kondisi ini bisa membuat banyak orang sakit kepala dalam mengatur kecukupan pendapatan. Gaji belum tentu naik, tetapi harga-harga kebutuhan seolah tak mau kompromi.

Anda mungkin termasuk yang kesal dengan kondisi yang cukup mengejutkan pada awal tahun ini. Namun, berkeluh kesah saja tidak akan menyelesaikan masalah.

Suka tidak suka, Anda harus beradaptasi agar kenaikan harga berbagai kebutuhan itu tidak membuat kondisi keuangan tahun ini jadi berantakan. Bagaimana memulainya? Simak tips berikut ini :

1. Evaluasi arus kas

Cobalah melihat lagi arus keluar masuk uang di kantong Anda tiga bulan terakhir. Mana kira-kira pos yang bisa Anda tekan atau bila memungkinkan, dihapuskan. Lalu, mana pos pengeluaran yang kerap membengkak.

Pos pengeluaran di luar kebutuhan pokok adalah yang harus pertama kali Anda lihat. Misal, pos pengeluaran untuk hobi dan hiburan, kunjungan ke salon, pengeluaran dining-out, dan lain-lain.

Jika tidak terlalu penting dan memboroskan, bisa Anda kurangi atau bahkan dicoret dari daftar pos pengeluaran sehingga Anda bisa menutup pos pengeluaran.

2. Atur strategi

Setelah mendeteksi pos-pos pengeluaran yang bisa Anda tekan, Anda bisa membuat hitungan sederhana dengan asumsi harga saat ini. Misal, biaya bensin dengan asumsi harga BBM lama, alokasi dana sebesar Rp 1 juta per bulan.

Bila berkukuh memakai kendaraan pribadi kemana-mana, anggaran Anda berpotensi naik kurang lebih 4 persen sebesar angka kenaikan BBM saat ini. Anda bisa menimbang beralih memakai kendaraan umum atau mengendarai sepeda motor.

Atau, bisa pula menghapus anggaran untuk perawatan kendaraan. Mencuci mobil atau motor sendiri bisa menghemat paling tidak Rp 50.000.

Harga cabai mahal berisiko ikut menaikkan harga makanan. Mengapa tidak mencoba memasak sendiri dan membawa bekal makan siang dari rumah saat bekerja? Lebih hemat dan lebih bersih.

3. Atur prioritas keluarga

Tahun ini sebenarnya Anda sudah berencana liburan bersama keluarga ke luar negeri. Anggaran sudah Anda cicil dengan menabung rutin.

Di tengah tantangan tahun 2017 yang kemungkinan cukup berat, Anda bisa menimbang untuk melihat lagi rencana liburan itu. Tidak perlu dibatalkan, tapi mungkin perlu dikemas ulang dengan lebih ekonomis.

Prioritaskan rencana pada kebutuhan yang terpenting. Misalnya, meneruskan investasi dana pendidikan anak, menabung untuk dana pensiun, menyelesaikan beban utang, dan lain sebagainya.

4. Cari pendapatan lebih

Bila pergerakan harga sering berlari jauh lebih kencang melampaui kenaikan penghasilan, mungkin tahun ini Anda perlu memasukkan opsi menambah penghasilan dari sumber lain.

Caranya, bisa dengan merintis usaha sampingan di samping pekerjaan resmi Anda. Atau, Anda bisa menimbang melamar pekerjaan di tempat baru yang lebih menjanjikan dari sisi kesejahteraan?

Dengan melakukan persiapan dan antisipasi menghadapi tantangan di tahun 2017, kondisi keuangan Anda tahun ini bisa terjaga lebih stabil dan memadai.

Selamat berhemat dan menggapai impian finansial Anda tahun 2017.

Editor : Aprillia Ika
Sumber: HaloMoney.co.id,
TAG: