Selasa, 28 Maret 2017

Ekonomi

Harga Cabai Kembali Melonjak, Mungkinkah karena Faktor Alam?

Jumat, 10 Februari 2017 | 08:15 WIB
KOMPAS.com / ANDREAS LUKAS ALTOBELI Warga sedang memilih cabai di Pasar Modern Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang Selatan. Kamis (5/1/2017). Hargai cabai melonjak drastis pasca-tahun baru. Di sejumlah daerah, harga cabai meroket dari puluhan ribu menjadi Rp 200-an ribu.

JAKARTA, KOMPAS.com - Persoalan naik turunnya harga pangan selalu menjadi perdebatan sengit, dari waktu ke waktu pemerintah sebagai pemangku kepentingan selalu berusaha menyelesaikan masalah komoditas strategis seperti cabai.

Kerap kali faktor alam menjadi sengkarut masalah melonjaknya harga pangan, tak lain, masalahnya lagi-lagi curah hujan tinggi atau musim kemarau panjang. 

Akibatnya, produksi menurun di tingkat petani, pasokan ke pasar menurun, dan kelangkaan barang hingga berdampak pada naiknya harga komoditas.

(Baca: Ini Jurus Pemerintah Redam Gejolak Harga Cabai)

Selain faktor alam, rantai distribusi yang masih panjang juga dinilai berpotensi menjadi ladang permainan ambil untung yang berlebih dari berbagai pihak. Mulai dari pengepul, pengirim, hingga bandar di pasar.

Pengamat pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas mengatakan, lonjakan harga cabai diprediksi baru akan stabil pada akhir Februari hingga Maret mendatang. Hal itu disebabkan oleh sentra-sentra cabai di berbagai daerah akan mengalami musim panen cabai.

"Di beberapa sentra, Februari ini sudah mulai panen, tapi panen sekarang ini mulai cukup terganggu, terutama oleh karena curah hujan, dan juga kerusakan akibat penyakit, jadi itu sebagai penyebab mengapa harga cabai sekarang belum bisa diturunkan pada saat ini," ujar Andreas saat berbincang dengan Kompas.com, Kamis (9/2/2017).

Dirinya menuturkan, persoalan lonjakan harga cabai saat ini memang faktor utamanya adalah faktor cuaca dan juga petani yang sedang menebus kerugian.

"Saya melihat ini faktor alam saja, dan sekarang ini petani dapat dibilang menebuslah, mereka ini rugi, dengan harga seperti sekarang ini bisa menutupi kerugian mereka, karena panen saat ini juga terganggu turun 40 persen sampai 60 persen, jadi kalau harga tinggi sekarang ini wajar-wajar saja," tuturnya.

Menurut Andreas, pemerintah tidak perlu melakukan intervensi yang berlebih karena harga cabai di tingkat petani sudah tinggi.

"Pemerintah tidak usah terlalu intervensi karena memang sekarang di level petani sudah tinggi," paparnya.

Hal itu terjadi karena pada saat ini para pedagang tengah bersaing mendapatkan pasokan cabai, bila pemerintah ikut turut bersaing mendapatkan pasokan, akan semakin membuat harga cabai semakin tinggi.

"Pedagang berebut barang (cabai) sekarang, kalau pedagang berebut barang dan pemerintah ikut-ikutan berebut barang malah kacau sehingga memicu harga semakin tinggi," ungkapnya.

Alasan petani

Salah satu koordinator Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) asal Magelang, Jawa Tengah, Tunov Mondro Atmojo mengakui, faktor cuaca dapat memengaruhi produksi komoditas cabai rawit.

"Faktor hujan sangat berpengaruh, misalkan satu hari petik (cabai) satu kuintal per hektar, kemudian selama tiga hari ke depan, petik tidak bisa sama satu kuintal per hektar, jika hujan yang merah langsung alami penurunan, jangankan hujan, mendung saja bisa melambat kalau rawit," ungkapnya.

Dirinya mengakui, selain faktor alam, komoditas cabai rawit merah yang ditanam oleh petani di wilayah Jawa Tengah harus melewati sembilan mata rantai distribusi hingga sampai ke tangan konsumen.

"Dari tangan petani sampai ke konsumen bisa sembilan, itu harus dipangkas," paparnya.

Petani sebagai motor produksi pangan dinilai belum mampu mengendalikan dan memangkas mata rantai distribusi pangan yang masih panjang.

Menurut dia, saat ini kelompok tani binaannya telah memotong rantai distribusi di tingkat pengepul dan pengirim, hingga barang produksi petani langsung dikirimkan ke bandar di

Kompas TV Harga Mahal, Pedagang Oplos Sejumlah Cabai


Jakarta.

"Bisa saja kelompok tani kirimkan sendiri, tetapi tidak ada jaringan, mereka (bandar) kuasai jaringan, meski kita buka kios di pasar, tapi keamanan bagaimana, penipuan sangat tinggi, dan kita tidak berani," ungkapnya.

Dugaan permainan nakal

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mensinyalir, fenomena lonjakan harga cabai diduga kuat karena ada pihak-pihak yang mendistorsi pasar, terutama dijalur distribusi, modus operandinya pun beragam, mulai dari penimbunan, praktik kartel oleh pedagang besar, hingga distributor.

YLKI mendesak agar pemerintah menindaklanjuti persoalan lonjakan harga cabai melalui Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) agar melakukan pengusutan dan penyidikan yang mengarah pada tindak pidana ekonomi.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman, selaku pihak yang bertanggung jawab terhadap produksi komoditas pangan, selalu mengakui bahwa produksi cabai di Indonesia tidak mengalami masalah, hanya faktor curah hujan yang tinggi dan petani cabai tidak dapat melalukan panen.

Dirinya juga mengakui, produksi cabai saat ini masih mencukupi kebutuhan dalam negeri.

"Tapi produksi aman kan, tidak ada impor, cabai, bawang, dan beras," ungkapnya.

 

Penulis: Pramdia Arhando Julianto
Editor : Aprillia Ika
TAG: