Selasa, 28 Februari 2017

Ekonomi

Habibie, Pesawat Terbang, dan Manusia Indonesia

Senin, 13 Februari 2017 | 20:33 WIB
Kontributor Bandung, Dendi Ramdhani Presiden ke-3 RI BJ Habibie saat memberi sambutan dalam peresmian gedung baru Rumah Sakit Khusus Ginjal Ny RA Habibie di Jalan Tubagus Ismail, Kota Bandung, Senin (8/8/2016). KOMPAS.com/DENDI RAMDHANI

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Republik Indonesia ketiga BJ Habibie menyatakan, tidak bisa dibayangkan apabila Indonesia tidak memiliki pesawat terbang. Oleh sebab itu, bukan merupakan sebuah kesalahan apabila Indonesia memiliki industri pesawat terbang sendiri.

Habibie mengungkapkan, Indonesia pun sudah membuktikan kemampuan untuk bisa membuat pesawat terbang sendiri. Ide untuk membuat pesawat terbang, kata Habibie, bukan berasal dari dirinya, melainkan dari Presiden RI pertama Ir Soekarno.

"Kita harus sangat sadari bahwa industri strategis dan khususnya dirgantara, adalah produk sepanjang masa yang dibutuhkan Indonesia," kata Habibie di sela-sela Presidential Lecture di Bank Indonesia (BI), Senin (13/2/2017).

Habibie menyatakan, bangsa Indonesia tidak perlu merasa ragu dengan kemampuannya sendiri dalam membuat berbagai hal, tidak hanya pesawat terbang. Pasalnya, bangsa Indonesia sudah membuktikan kemampuannya.

Apalagi, imbuh Habibie, keadaan dan generasi masa kini jauh lebih sempurna dibandingkan periode sebelumnya. Generasi Indonesia masa kini pun diakuinya lebih pintar dan mampu.

Dengan demikian, Habibie merasa sangat optimis dengan masa depan Indonesia. Masa depan bangsa dan negara, tutur dia, ada di tangan generasi masa kini.

"Kita mau memiliki semua prasarana ekonomi di Indonesia yang kita bayar sekurang-kurangnya 60 persen dengan keringat rakyat. Rakyat yang bekerja," jelas Habibie.

Habibie memandang, dirinya optimis terhadap sumber daya manusia Indonesia. Menurut dia, manusia Indonesia pada dasarnya tidak mengenal SARA, memiliki toleransi yang tinggi, dan percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Oleh sebab itu, kemajuan dan perkembangan Indonesia dipandangnya harus diserahkan kepada manusia Indonesia sendiri.

Penulis: Sakina Rakhma Diah Setiawan
Editor : M Fajar Marta
TAG: