Selasa, 28 Maret 2017

Ekonomi

Indonesia Perkuat Citra Sawit di Eropa

Minggu, 5 Maret 2017 | 06:00 WIB
WWF/J Morgan Indonesia adalah negara pemasok minyak sawit terbesar dunia.

JAKARTA, KOMPAS.comKementerian Perdagangan (Kemendag) terus berupaya menguatkan diplomasi sawit Indonesia di Eropa.

Dalam kunjungannya ke Eropa baru-baru ini, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kemendag, Arlinda, menyatakan Indonesia merupakan penghasil terbesar minyak sawit bersertifikasi di dunia.

Saat ini, Indonesia terus memperkuat komitmen untuk mewujudkan sektor sawit Indonesia yang berkelanjutan.

"Berdasarkan skema Roundtable Sustainable Palm Oil, Indonesia merupakan penghasil terbesar minyak sawit bersertifikasi di dunia dengan produksi 6,5 juta ton atau 52 persen dari 12,65 juta ton total produksi minyak sawit bersertifikasi global," tegas Arlinda melalui rilis pers ke Kompas.com.  

Untuk memperkuat diplomasi sawit di dunia, Arlinda melakukan promosi sawit saat kunjungan kerja ke Perancis selama 27 Februari-1 Maret 2017.

Arlinda mengunjungi kantor Aliansi Prancis (the French Alliance for Sustainable Palm Oil), Selasa (28/2/2017), dan diterima langsung Sekretaris Jenderal Aliansi Perancis Laure d’Astorg.

Pada kunjungan ini Arlinda memaparkan upaya-upaya Pemerintah Indonesia dalam menciptakan sektor sawit Indonesia yang berkelanjutan.

“Promosi terhadap sawit Indonesia yang berkelanjutan akan terus gencar dilakukan di negara mitra dagang. Kolaborasi dengan stakeholders lokal di Prancis perlu dibina untuk menggalang dukungan terhadap sawit Indonesia," ujar Arlinda.

Menurutnya, Pemerintah Indonesia akan terus mempromosikan dan memfasilitasi pertumbuhan sektor sawit karena menyangkut penghidupan petani yang mencakup luas 42 persen dari total lahan kebun sawit.

Fokusnya agar sawit yang diproduksi, diolah, dan diekspor adalah sawit yang berkelanjutan. Promosi akan dilakukan secara komprehensif, baik kerja sama antar pemerintah; pemerintah dengan swasta; dan dengan kalangan industri, akademisi, serta lembaga penelitian untuk menyampaikan edukasi bahwa sawit Indonesia berkelanjutan.

“Informasi yang valid mengenai sawit Indonesia harus terus dipromosikan dan dipublikasikan, termasuk, komunikasi dengan jaringan ritel dan supermarket seperti Casino U, yang menjual produk-produk berlabel no palm oil,” lanjut Arlinda.

Arlinda menegaskan Indonesia akan terus bergerak maju dalam menerapkan solusi-solusi agar sektor sawit menguntungkan secara ekonomi, memperhatikan aspek sosial, dan ramah lingkungan.

Topik deforestasi menjadi salah satu yang dibahas Sekjen Laure pada kunjungan tersebut.

Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Togar Sitanggang yang turut serta dalam rombongan menjelaskan perbedaan pengertian deforestasi di Indonesia dan Eropa. Hadir pula Direktur Pengembangan Promosi dan Citra Kemendag Merry Maryati.

“Indonesia siap memenuhi permintaan 100 persen minyak sawit berkelanjutan untuk mendukung Deklarasi Amsterdam,” tegas Arlinda.

Deklarasi Amsterdam adalah deklarasi yang ditandatangani pada 7 Desember 2015 oleh Belanda, Jerman, Denmark, Inggris, dan Perancis serta didukung Norwegia.

Deklarasi Amsterdam mendukung diterapkannya 100 persen sustainable palm oil pada rantai nilai palm oil di Uni Eropa tahun 2020.

Perkembangan Sektor Sawit

Dengan luas lahan sekitar 11,6 juta hektar dan produksi CPO sebesar 31,28 juta ton, industri sawit Indonesia menyerap tenaga kerja langsung sebanyak 4,2 juta dan tenaga kerja tidak langsung sejumlah 12 juta.

Nilai ekspor CPO dan produk turunannya tahun 2016 adalah 18,11 miliar dollar AS yang berkontribusi sebesar 13,4 persen terhadap total ekspor nonmigas dan 12,5 persen terhadap total ekspor Indonesia.

Negara tujuan ekspor utama Indonesia adalah India (20 persen), Uni Eropa (15,62 persen), RRT (12,53 persen), dan Pakistan (7,26 persen).

Penulis: Aprillia Ika
Editor : Aprillia Ika
TAG: