Kamis, 30 Maret 2017

Ekonomi

Tren dan Permintaan Baru Pembayaran untuk Optimalisasi "Fintech"

Selasa, 7 Maret 2017 | 12:00 WIB
thinkstockphotos Ilustrasi Fintech
Oleh: Boan Sianipar

Bagi saya, preferensi metode pembayaran untuk transaksi apa pun adalah kartu kredit. Kemudahan utamanya adalah tidak perlu mencari mesin ATM atau menyimpan uang tunai di dompet.

Transaksi melalui kartu kredit juga terekam dengan baik. Informasi riwayat transaksi bulanan atau tahunan dapat membantu melacak pengeluaran dan kategorinya. 

Kartu kredit juga menawarkan perlindungan atau jaminan, dan bagian terbaiknya adalah memberikan poin loyalty (tergantung pada penyedia kartu) bagi pembelian berikutnya.

Sayangnya, penerimaan kartu kredit di Indonesia (baik online atau secara langsung) masih rendah.

Bahkan pengguna seringkali dikenakan biaya transaksi (yang bertentangan dengan Peraturan Bank Indonesia No. 11/11/PBI/2009 Pasal 8 Ayat 2), sehingga saya terpaksa melakukan pembayaran dengan cara tunai atau transfer antar rekening.

Melihat dinamika dan lansekap yang menantang dalam kegiatan pembayaran di Indonesia, saya memutuskan untuk bergabung dengan Xendit, sebuah perusahaan payment gateway.

Hingga beberapa tahun yang lalu, transaksi tunai di Indonesia masih mendominasi sebesar 99,5 persen, namun transaksi non-tunai mulai mengambil alih.

Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah keberadaan perusahaan pembayaran fintech.

Meski pembayaran tunai masih menjadi pilihan utama, volume transaksi antar-rekening dan penggunaan kartu kredit meningkat, sejalan dengan penggunaan e-money yang mendukung transaksi non-tunai tadi.

Persentase penggunaan e-money di Indonesia masih cukup rendah namun terus berkembang, terutama dengan berbagai insentif yang ditawarkan oleh para penyedia jasa.

SUMBER DATA: BANK INDONESIA Grafik pertumbuhan transaksi menggunakan ATM, kartu kredit, dan e-money.

Penggunaan kartu ATM dan kartu kredit dalam lima tahun terakhir masing-masing tumbuh sekitar 13 persen dan 7 persen.

Di sisi lain, pertumbuhan penggunaan e-money secara mengejutkan jauh melampaui keduanya, yaitu sekitar 30 persen. Meski demikian, angka ini hanya setengah dari lonjakan penggunaan pembayaran contactless atau mobile di Amerika Serikat.

SUMBER DATA: BANK INDONESIA Pertumbuhan jumlah kartu ATM/debit, kartu kredit, dan e-money.


Perusahaan fintech di berbagai belahan dunia saat ini mendorong terbentuknya masyarakat non-tunai. Di Indonesia sendiri, 44 persen perusahaan fintech bergerak di bidang pembayaran.

Saat ini di seluruh dunia, terlihat berbagai tren menarik terkait pembayaran seperti lahirnya AliPay, WePay, Toss, PayTm, Venmo, Dwolla, Ruru dan masih banyak lagi.

Sumber: Indonesian FinTech Association Perusahaan FinTech

 
Setelah melakukan riset dan berbicara dengan beberapa perusahaan tersebut, terbukti bahwa:

1) semua perusahaan pembayaran menjalin kerja sama dengan bank. Melalui kerja sama dengan bank, perusahaan fintech dapat menawarkan sebuah pengalaman yang mulus (seamless) kepada pengguna untuk meningkatkan transaksi non-tunai. Perusahaan fintech dan bank saling membutuhkan;

2) melalui kerja sama dengan bank dan adanya ruang untuk mengimplementasikan berbagai ide, layanan ini memunculkan konsep autodebit (direct debit), sebuah fitur untuk mengakses dan secara langsung memotong dana pada akun bank pengguna sebagai metode pembayaran.

Volume transaksi salah satu perusahaan tumbuh sebesar 2 miliar dollar AS dalam enam bulan setelah mengaktifkan fitur autodebit;

3) perusahaan dapat terkoneksi dengan mitra perbankan melalui Application Programming Interface (API). Sebab, sistem pembayaran di Indonesia cukup rumit. Melalui suatu set API Xendit turut mendorong transaksi pembayaran yang seamless.

Autodebit

Selain kemitraan dengan bank, kami percaya bahwa autodebit adalah langkah berikutnya menuju pertumbuhan transaksi non-tunai yang stabil.

Metode pemotongan dana secara langsung dalam akun bank sebagai opsi pembayaran, terbukti menjawab kendala untuk secara manual melakukan transfer demi mengisi ulang akun e-money.

Hal ini mendorong transaksi bergerak secara online, yang lebih lanjut mendorong kecepatan perputaran uang, meningkatkan transparansi dan menurunkan biaya transfer.

Konsep autodebit sejalan dengan kebutuhan akun kustodian di luar negeri, dimana dua atau lebih pihak memiliki akses ke rekening.

Hal ini akan membantu, utamanya dengan adanya peraturan baru pinjaman P2P, yang mensyaratkan perlunya pemisahan dana dari perusahaan.

Indikasi positif terlihat dimana saat ini bank telah atau sedang mengembangkan API meski untuk akses terbatas.

Perusahaan fintech sangat mengakar di negara lain karena terdapat API untuk segala hal dan sangat mudah diakses oleh start-ups.

Kami membayangkan jika autodebit atau rekening custodian dan API perbankan ada di Indonesia, maka dapat tercipta ratusan inovasi pembayaran melalui pengembangan teknologi.

Inovasi pembayaran tidak hanya datang dari start-ups tapi juga melalui kerja sama perbankan dan pemain lainnya yang memiliki unit riset yang canggih. 

Inovasi juga hadir dari perusahaan yang mencari inovasi baru bagi pasar pembayaran, seperti Mastercard atau Visa,  dimana pengguna kini dapat menarik dan mengirimkan dana antar kartu.

Kami di Xendit melihat tren ini berlaku di perusahaan fintech seperti MatchMove yang mengeluarkan kartu pra-bayar di Asia Tenggara.

Sulit untuk menebak inovasi penting bidang pembayaran di masa depan, namun belajar dari tren di Indonesia dan perusahaan fintech lainnya di seluruh dunia, kami optimistis dengan potensi besar Indonesia dan bangga dapat berkontribusi bagi kemajuan Indonesia.     

Editor : Aprillia Ika
TAG: