Senin, 27 Maret 2017

Ekonomi

Faisal Basri: Kalau Mau Benahi Disharmoni Sosial, Urusi "Bottom Forty"

Selasa, 7 Maret 2017 | 21:53 WIB
Estu Suryowati/Kompas.com Faisal Basri

JAKARTA, KOMPAS.com - Ekonom Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri melihat ketimpangan di Indonesia masih tinggi. Rasio gini berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), yang sebesar 0,396 pada 2016, memang nampak lebih baik ketimbang tahun-tahun sebelumnya.

Pada 2015, rasio gini tercatat di level 0,405 dan pada 2014 sebesar 0,41. Namun kata, Faisal, ukuran ketimpangan tersebut didasarkan pada pengeluaran dan bukannya pendapatan.

Dilihat dari pengeluarannya, 20 persen orang terkaya di Indonesia menguasai 47 persen distribusi pengeluaran, 40 persen kelas menengah menguasai 36 persen, dan 40 persen terbawah atau "bottom forty" hanya menguasai 17 persen.

Menurut Faisal, jika dilihat dari pendapatan, maka pemerintah masih gagal dalam mengangkat mayoritas 40 persen terbawah. "Sebab, satu persen orang terkaya menguasai 49,3 persen kekayaan nasional. Terburuk keempat setelah Rusia, India, dan Thailand," kata Faisal dalam diskusi bertajuk Indonesia's Economic Outlook 2017, di Jakarta, Selasa (7/3/2017).

Lebih lanjut Faisal mengatakan, akibat kebijakan yang ugal-ugalan, pendapatan "bottom forty" turun. Salah satu yang masuk kelompok ini adalah petani. Nilai tukar petani terlihat menurun beberapa tahun terakhir, utamanya subsektor pertanian pangan yang mencapai 104,1 pada akhir 2015 menjadi 96,1 pada Februari 2017.

Rata-rata jam kerja buruh juga turun dari 40 jam per minggu pada 2014 menjadi 25 jam per minggu. Sehingga, pendapatan riil buruh yang dibawa pulang menjadi lebih sedikit, dan sebagian bahkan dirumahkan.

"Jadi pemerintah ini jangan ngurusi yang di atas saja (20 persen terkaya). Kalau mau mengurangi disharmoni sosial, urusi yang "bottom forty", karena pengangguran lebih mudah diajak demo. Dikasih Rp 50.000 juga mereka mau," kata Faisal.

Penulis: Estu Suryowati
Editor : M Fajar Marta
TAG: