"Fintech" dan Pentingnya Dukungan Komunitas - Kompas.com

"Fintech" dan Pentingnya Dukungan Komunitas

Aldi Haryopratomo
Kompas.com - 15/03/2017, 09:00 WIB
thinkstockphotos Ilustrasi Fintech

Ibu Ani adalah ibu rumah tangga di Desa Tegal Wangi. Suaminya seorang buruh harian. Ibu Ani selalu meminjam uang untuk membiayai gaya hidupnya, meskipun dia sudah tidak sanggup lagi membayar.

Sudah tidak ada lagi koperasi atau Lembaga Keuangan Mikro (LKM) yang mau meminjamkan uang kepadanya.

Akhirnya ia beralih meminta pinjaman kepada Ibu Evi Ujiani, salah satu ketua Arisan Mapan. Bedanya dengan arisan lain, Mapan memiliki aplikasi mobile untuk mengatur keuangan (financial planning) yang dikelola bersama-sama antar anggota arisan di dalam satu komunitas RT/RW, atau satu desa.

Bagi Ibu Ani dan masyarakat di lingkungannya, akses terhadap pinjaman bukan serta merta meningkatkan kesejahteraannya. Sebaliknya, situasi keuangannya justru semakin sulit karena tidak sanggup membayar hutang.

Financial Inclusion Insights di tahun 2016 mengeluarkan studi yang menyimpulkan bahwa banyaknya pinjaman kredit untuk motor justru meningkatkan tingkat kemiskinan di Indonesia. Semakin banyak akses ke produk keuangan ternyata tidak langsung berdampak positif bagi masyarakat.

Pertanyaanya, bagaimana fintech dapat membantu masyarakat dalam mendapatkan akses terhadap produk keuangan sekaligus membantu mereka mengelola keputusan finansial?

Untuk menjawab hal ini, maka dapat digunakan analogi ketika seseorang hendak melakukan program diet makanan. Agar sukses melakukan program diet, maka seseorang harus mengetahui berbagai jenis dan tipe makanan; mana yang baik dan buruk bagi kesehatan.

Sejak kecil kita dididik oleh orang tua kita untuk memilih makanan. Terdapat jargon sederhana seperti “4 sehat 5 sempurna” yang sudah terpatri melalui berbagai program kampanye publik. Lalu ada kewajiban dari pemerintah untuk memberikan label di produk makanan, sehingga orang bisa mengatur asupan gula dan kalorinya.

Inilah tahap pertama dari “literasi”. Begitu juga dengan literasi keuangan, berbagi pengetahuan mengenai produk keuangan serta mewajibkan perusahaan keuangan untuk menginformasikan apa saja kandungan dan risiko dalam suatu produk (kredit, asuransi, reksa dana, dan lain-lain) adalah langkah pertama.

Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Indonesia fokus melakukan hal ini dalam tiga tahun terakhir. Hasilnya pun cukup positif, karena terjadi kenaikan indeks literasi keuangan dari 21,8 persen di tahun 2013 menjadi 29,7 persen di tahun 2016.

Namun apakah keberhasilan diet berhenti di tahap literasi saja? Berapa banyak orang yang tahu mengenai kandungan kesehatan, tetapi tetap gagal mengubah perilaku makannya, dan akhirnya gagal dalam diet? Oleh karena itu, tahap selanjutnya untuk edukasi kepada masyarakat adalah program yang konsisten dan dukungan dari komunitas.

Pertama, program yang konsisten. Di dunia kesehatan berkembang berbagai jenis diet (no-carb, paleo, Atkins, dan lainnya). Ada juga program yang secara otomatis mengantarkan makan siang dan makan malam ke rumah atau kantor dengan kalori yang terukur.

Di sinilah fintech dapat berperan. Sebagai contoh Qapital, suatu aplikasi yang ‘memaksa’ seseorang untuk menabung karena secara otomatis mendebet saldo tabungan ke rekening khusus yang dibuat untuk mencapai suatu tujuan. Jadi seseorang bisa membuka rekening khusus untuk membeli mobil, rumah, atau barang-barang lain.

Di Indonesia hal ini sudah mulai dilakukan secara terbatas. Namun, saat ini belum optimal karena belum ada standar yang memungkinkan pihak ketiga (start-up) melakukan auto-debet saldo seorang nasabah bank. Kalaupun ada, masih terbatas pada program internal bank, atau kartu kredit.

Kedua, dukungan komunitas. Sebaik apapun program yang dikembangkan, tanpa ada bantuan dari mentor atau dukungan lingkungan terdekat, maka besar kemungkinan tujuan kita gagal. Program diet lebih bertahan apabila dilakukan bersama teman.

Pergi ke pusat kebugaran lebih menarik jika disemangati kolega. Memiliki sistem dukungan komunitas merupakan elemen yang sangat penting, namun acapkali terlupakan, di dalam pengambilan keputusan-keputusan finansial.  

Kembali ke cerita Ibu Evi dan Ibu Ani, disinilah terjadi kolaborasi antara teknologi dengan seorang pemimpin komunitas. Ibu Evi bukan orang terkaya di desanya ataupun kepala desa. Namun ia terkenal sebagai sosok keibuan yang selalu membantu tetangganya.

Dengan menggunakan aplikasi mobile Mapan, Ibu Evi dapat membantu Ibu Ani dan anggota komunitasnya untuk membuat suatu rencana pembelian produk.

Misalnya, anggota komunitas sepakat untuk membeli rice cooker untuk Ibu Ani. Aplikasi akan membantu mereka menentukan jumlah setoran, jadwal pembayaran, dan mengatur angsuran pembayaran dari masing-masing anggota.

Suatu hari, rice cooker pesanan Ibu Ani pun tiba. Dalam waktu dua bulan, Ibu Ani berhasil membayar kembali pinjaman pembelian rice cooker kepada Ibu Evi. Bahkan Ibu Ani berani bersiap menjadi Ketua Komunitas Mapan.

Dari cerita di atas, sebaiknya jangan pernah meremehkan kekuatan komunitas dalam mengubah perilaku hidup kita.  Demikian pula untuk fintech.
 

EditorAprillia Ika
Komentar
Close Ads X