Kamis, 30 Maret 2017

Ekonomi

Grab Nilai PM 32 Hambat Perkembangan Transportasi Online

Jumat, 17 Maret 2017 | 18:26 WIB
KOMPAS.com/KAHFI DIRGA CAHYA Managing Director Grab Indonesia, Ridzki Kramadibrata (kiri) di kantor Grab Indonesia, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (17/3/2017).

JAKARTA, KOMPAS.com - Perusahaan penyedia aplikasi transportasi online Grab Indonesia menilai Peraturan Menteri (PM) Perhubungan Nomor 32 Tahun 2016 tentang Penyelengaraan Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak Dalam Trayek akan menghambat perkembangan transportasi online.

Managing Director Grab Indonesia Ridzki Kramadibrata mengatakan, PM 32 menimbulkan kekhawatiran bagi perusahaan, pengguna, dan mitra perusahaan. Menurut dia, penerapan PP tersebut akan menjadi sebuah kemunduran Indonesia dalam bidang teknologi informasi. 

"Ini berpotensi menjadi kendala bagi layanan transportasi yang aman dan nyaman. PP harusnya mengedepankan inovasi," ujar Ridzki dalam konferensi pers di Kantor Grab Indonesia Jakarta, Jumat (17/3/2017). 

Rizdki menuturkan, terdapat tiga poin peraturan yang dinilai merugikan perusahaan penyedia transportasi online. Ketiga poin itu adalah penetapan tarif batas atas dan bawah, pengenaan STNK atas nama perusahaan, dan  pembatasan kuota armada taksi online

Menurut Rizdki, pihaknya siap untuk melakukan diskusi dengan pemerintah untuk membahas revisi PM 32 ini.  

"Kami berkomitmen untuk terus diskusi dengan pemerintah, mewakili aspirasi para konsumen dan mitra pengemudi," tandasnya.

Kompas TV Perusahaan pemesanan transportasi online Grab mengumumkan investasi senilai 700 juta dollar Amerika Serikat atau setara di atas Rp 9 triliun. Investasi ini untuk merealisasikan proyek Grab for Indonesia. Rencananya pencairan dana investasi akan dilakukan secara bertahap sampai tahun 2020. Direksi Grab berharap investasi ini bisa berdampak signifikan bagi Indonesia di masa mendatang. Terutama untuk mendorong transisi sektor bisnis nasional ke perekonomian digital.

 


Kompas TV Susahnya penyelenggara angkutan kota bersaing dengan ojek berbasis aplikasi memang tidak lepas dari permodalan. Penyelenggara ojek online yang ada di Indonesia memang dibekingi modal hingga triliunan rupiah. Penyelenggara ojek berbasis aplikasi terbesar di antaranya Gojek dan Grab. Gojek hingga kini telah masuk jajaran startup "unicorn", alias perusahaan bermodal lebih dari Rp 13 triliun. Di belakang Gojek terdapat nama-nama investor dunia seperti Sequoia, Northstar hingga Rakuten.
Penulis: Achmad Fauzi
Editor : M Fajar Marta
TAG: