Kamis, 30 Maret 2017

Ekonomi

Pangkas Produksi Minyak, Ekonomi Arab Saudi Terpukul

Sabtu, 18 Maret 2017 | 09:34 WIB
arabianbusiness.com Kilang minyak milik Aramco

NEW YORK, KOMPAS.com - Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) menyepakati pemangkasan produksi minyak sejak akhir tahun 2016 lalu.

Upaya ini dilakukan guna menggenjot kembali harga minyak yang anjlok akibat banjir pasokan. Salah satu negara yang turut serta dalam pemangkasan minyak tersebut adalah Arab Saudi, produsen minyak terbesar OPEC.

Agar harga minyak kembali melonjak, Arab Saudi tak sungkan memangkas produksi minyak dengan jumlah terbanyak.

Mengutip The Wall Street Journal, Sabtu (18/3/2017), data OPEC menunjukkan bahwa sejak Oktober 2016, Arab Saudi telah memangkas produksi minyak sebesar 800.000 barrel per hari (bph).

Angka ini sekitar 300.000 bph lebih banyak dari yang dijanjikan sebelumnya. Namun demikian, Arab Saudi tidak bisa selamanya biasa-biasa saja dengan pemangkasan produksi minyak.

Meski memiliki cadangan devisa dengan jumlah besar, yakni 524 miliar dollar AS, Arab Saudi tidak bisa terus-menerus menanggung pemangkasan produksi tanpa bantuan.

Dana Moneter Internasional (IMF) mengestimasi, pemangkasan produksi minyak membuat ekspektasi pertumbuhan ekonomi Arab Saudi terkorbankan.

Menurut IMF, pertumbuhan ekonomi Arab Saudi bisa hanya mencapai 0,4 persen tahun ini, jauh di bawah proyeksi pada bulan Oktober 2016 lalu yang mencapai 2,4 persen.

Kalangan bisnis Arab Saudi pun dikabarkan telah mengeluh kepada Deputi Putra Mahkota Mohammed bin Salman bahwa sektor swasta telah terpukul akibat pemangkasan produksi minyak.

Pasalnya, pemerintah pun ikut-ikutan memangkas belanja dan subsidi. Data yang disajikan kalangan bisnis kepada Pangeran Mohammed bin Salman pun menunjukkan, hanya 17 persen perusahaan yang melantai di bursa meraup pertumbuhan laba.

Adapun 46 persen perusahaan harus rela labanya anjlok dan bahkan 37 persen mengalami rugi.

Sinyal ke Produsen Minyak Lainnya

Arab Saudi pun memberi sinyal kuat bahwa negara itu tidak akan melanjutkan pemangkasan produksi minyak apabila negara-negara produsen besar lainnya tidak menjalankan komitmen untuk menaikkan harga minyak tersebut.

Selain anggota OPEC, negara-negara produsen minyak lainnya juga ikut memangkas produksi. Dalam pertemuan di Gedung Putih, Menteri Energi Arab Saudi Khalid Al-Falih menunjukkan frustasinya kepada Rusia, Irak, dan produsen lainnya.

Kabarnya, Menteri Energi Rusia Alexander Novak dan pejabat energi Irak Jabar Ali Al-Luaibi meyakinkan kepada Al-Falih bahwa negara mereka berkomitmen pada kesepakatan pemangkasan produksi.

"Ia (Al-Falih) sangat lelah," kata seorang sumber.

Beberapa negara anggota OPEC mulai kendur komitmennya dalam memangkas produksi minyak. Sehingga, Arab Saudi menutupnya dengan memangkas lebih banyak. Rusia dan Irak adalah target utama sinyal Arab Saudi itu, karena keduanya tidak memangkas produksi sesuai janji.

Selain itu, kedua negara juga merupakan ancaman utama pangsa pasar minyak Arab Saudi. Rusia menjanjikan pemangkasan produksi minyak sebesar 300.000 bph, namun nyatanya hanya memangkas sekitar 119.000 bph.

Sementara itu, Irak malah menggenjot produksinya sebesar 63.000 bph dan membidik produksi lebih banyak di kilang minyak di kawasan utara negara itu.

Irak berdalih, peningkatan pendapatan dari minyak dibutuhkan untuk berperang melawan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Sejak awal pun Irak tampak ragu untuk ikut komitmen memangkas produksi.

Penulis: Sakina Rakhma Diah Setiawan
Editor : Aprillia Ika
TAG: