Tito Sulistio: Semua "Good News" Bikin IHSG Pecahkan Rekor - Kompas.com

Tito Sulistio: Semua "Good News" Bikin IHSG Pecahkan Rekor

Estu Suryowati
Kompas.com - 18/03/2017, 19:00 WIB
KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMO Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Tito Sulistio saat memberikan keterangan pers di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (16/1/2017). PT Bursa Efek Indonesia akan merevisi dua peraturan mengenai transaksi marjin yakni Peraturan BEI no II-H tentang Persyaratan dan Perdagangan Efek dalam Transaksi Marjin dan Transaksi Short Selling, serta Peraturan BEI nomor III-I tentang Keanggotan Marjin dan/atau Short Selling.

JAKARTA, KOMPAS.com - Sederet kabar baik membuat lantai bursa efek Indonesia cukup bergairah sepanjang sepekan terakhir.

Kemarin Jumat (17/3/2017), nilai kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia ditutup di rekor tertingginya di Rp 6.018,79 triliun.

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga memecahkan rekor, berakhir di level 5.540,43 atau meningkat 22,19 poin (0,4 persen) dibandingkan penutupan hari sebelumnya.

Kabarnya, pencapaian ini didorong oleh rumor akan dinaikkannya peringkat Indonesia oleh S&P ke level 'investment grade'.

Menurut Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio, ada banyak 'good news' sehingga IHSG memecahkan rekor tertingginya tahun ini, kemarin Jumat.

Pertama, kenaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Fed Fund Rate (FFR) yang sebesar 25 basis poin (bps) lebih bagus dari yang ditakutkan pasar yang sebesar 50 bps.

Pasar, sebut Tito, telah melakukan restore in, dan memperkirakan kenaikan ini sebelumnya.

Kedua, pasar melihat strategi 'inward looking' Donald Trump tidak akan jalan apabila FFR naik terlalu tinggi.

Jadi, walaupun FFR bakal naik lagi di kemudian hari, mereka percaya Trump akan menjaga agar kenaikannya tidak setinggi yang diperkirakan selama ini.

Ketiga, kondisi global membaik didorong hasil pemilu di zona Eropa. Hasil pemilu Belanda berpihak pada politik non-populis.

"Diharapkan Perancis, dan Jerman juga hasilnya yang non-populis," kata Tito kepada Kompas.com, Jumat malam.

Terkait hasil pemilu Belanda ini, Chief Economist Bank CIMB Niaga Adrian Panggabean sebelumnya menyampaikan bahwa menilik episode pergerakan atau perubahan angin politik di Eropa kontinental selama 15-20 tahun terakhir, analis politik cenderung melihat Belanda sebagai 'leading indicator' dari arah perubahan angin politik di Eropa.

Menurut dia, dari hasil pemilu Belanda, dengan kalahnya Wilders, menjadi pertanda preferensi politik masyarakat Eropa terhadap keterbukaan (politik non-populis) masih besar.

Dengan demikian, masyarakat masih punya harapan bahwa politik keterbukaan mungkin akan juga menang di Perancis dan Jerman.

Harapan akan menangnya politik non-populis punya implikasi besar terhadap stabilitas sektor finansial, karena preferensi politik Belanda, Perancis dan Jerman (ketiganya dianggap sebagai Eurozone core countries) jelas punya pengaruh terhadap masa depan mata uang Euro.

Mata uang Euro ini yang pada gilirannya akan berimplikasi luas terhadap konstelasi dan keseimbangan mata uang dunia. Termasuk di dalamnya adalah nasib rupiah.

Artinya, kemenangan PM Mark Rutte di Belanda adalah berita baik untuk mata uang emerging market, termasuk rupiah.

(Baca: Pasca Kenaikan Suku Bunga Acuan AS)

Fakfor Dalam Negeri

Setelah melihat berbagai kabar baik dari mancanegara, Tito menuturkan ada juga faktor-faktor dari dalam negeri yang mendorong IHSG tembus rekor tertinggi 2017.

Pertama, hasil laporan keuangan 74 perusahaan terbuka yang sudah masuk ke otoritas bursa menunjukkan peningkatan 'comprehensive income' rata-rata 29 persen. Bahkan kata Tito, laporan dari emiten perbankan menunjukkan pertumbuhan yang bagus.

"Semua yang perbankan, growth-nya bagus. Bahkan Mandiri, BRI, mencapai aset di atas Rp 1.000 triliun," kata Tito.

Kedua, produk baru BEI seperti relaksasi margin akan segera berjalan. Ketiga, pasar juga mendengar kabar bahwa akan ada 14 perusahaan yang akan melantai di BEI tahun ini, ditambah lagi sembilan perusahaan yang merupakan anak-cucu Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

"Jadi, semuanya 'good news'. Ditambah, mereka dengar S&P akan memberikan peringkat triple B, (makanya dana) asing masuk," ujar Tito.

Sembilan anak-cucu usaha BUMN, berdasarkan penuturan pejabat Kementerian BUMN, memang tengah disiapkan untuk bisa melangsungkan penawaran saham perdana publik atau IPO (Initial Public Offering) pada tahun ini.

Dua perusahaan lagi rencananya akan menyusul IPO pada 2018 mendatang. Anak-cucu usaha BUMN yang bakal IPO tahun ini rencananya dari PT Wijaya Karya Tbk, PT PP Tbk, PT Pertamina, PT Pelindo I, PT Garuda Indonesia Tbk, serta PT PLN (1 perusahaan).

Perolehan dana IPO diharapkan mencapai Rp 21 triliun. Sejumlah kabar baik itu membuat asing banyak melakukan aksi beli bersih.

Catatan Tito, net buy asing pada Kamis (16/3/2017) sekitar Rp 1,84 triliun, dan pada Jumat net buy asing sebesar Rp 2,48 triliun.

"Jadi sejak awal tahun, total net buy sudah Rp 4,28 triliun," imbuhnya.

Yang menarik, sambung Tito, investor asing tersebut masuk ke barang-barang yang harganya tinggi, yaitu saham-saham di lapis pertama, dan banyak berada di indeks LQ45.

Menurut Tito, kalau investor masuk di lapis pertama, biasanya dana yang mereka tanamkan tahan lama.

(Baca: Pecah Rekor, Kapitalisasi Pasar BEI Tembus Rp 6.000 Triliun)

 

PenulisEstu Suryowati
EditorAprillia Ika
Komentar
Close Ads X