Kamis, 30 Maret 2017

Ekonomi

Perbankan “Gelap” Ancam Perekonomian China

Senin, 20 Maret 2017 | 08:09 WIB
Reuters/Kim Kyung-Hoon Di China, para rentenir mengembangkan sistem pinjaman dana dengan garansi yang aneh, yakni foto bugil nasabah digunakan sebagai jaminan.

BEIJING, KOMPAS.com – Pimpinan bank terbesar dan regulator asuransi di China mengeluarkan peringatan keras terkait bahaya perbankan gelap alias shadow banking terhadap perekonomian China.

Ini adalah pernyataan terbaru terkait meningkatnya kekhawatiran mengenai lonjakan pembiayaan yang sangat spekulatif dan diawasi dengan buruk.

Mengutip The New York Times, Senin (20/3/2017), shadow banking adalah layanan perbankan termasuk kredit yang diberikan di luar institusi perbankan resmi.

(Baca: Foto dan Video "Pinjaman Bugil" Bocor ke Ruang Publik)

Praktik ini memainkan peran yang sangat besar di dalam perekonomian China, di mana perbankan besar yang diawasi pemerintah seringkali mengalami perlambatan penyaluran kredit kepada kalangan bisnis swasta dan wirausaha.

Para pakar mencemaskan bahwa pembiayaan gelap semacam itu akan menjadi bom waktu yang dapat mengancam sistem keuangan China.

Direktur Utama Industrial and Commercial Bank of China (ICBC) Yi Huiman memperingatkan soal pesatnya penyebaran kanal investasi yang tidak diawasi dan diatur, seperti produk wealth management.

ICBC merupakan bank terbesar di dunia dalam hal aset. Produk wealth management kerap ditawarkan oleh perbankan maupun lembaga jasa keuangan lainnya di China kepada investor biasa di negara itu, dengan janji tingkat bunga yang lebih tinggi dari deposito bank. Akan tetapi, pencatatannya pada laporan keuangan bank kerap tidak rapi.

Shadow banking bukan menjadi hal yang diregulasi secara penuh. Kita harus fokus. Jika tidak, ekonomi riil akan menderita,” ungkap Yi.

Dalam perekonomian China, kredit tumbuh dengan cepat, sejalan dengan upaya pemerintah agar perekonomian tidak melambat lebih lanjut.

Pada tahun 2016 lalu, pertumbuhan ekonomi China mencapai 6,7 persen. Untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi, pemerintah China membolehkan ekspansi kredit hingga mencapai ekuivalen sekitar 15 persen dari kinerja ekonomi tahunan negara itu.

Kredit banyak disalurkan untuk investasi yang tinggi pada infrastruktur baru, seperti kereta cepat maupun pendirian pabrik-pabrik baru milik BUMN. Namun, pesatnya pertumbuhan kredit itu pun menimbulkan spekulasi, termasuk pada sektor properti residensial.

Hal ini menjadi kekhawatiran sebagian pejabat, bankir, dan ekonom China. Harga property di kota besar dan kota menengah melonjak 12 persen dalam 12 bulan yang berakhir pada Februari 2017 lalu.

Penulis: Sakina Rakhma Diah Setiawan
Editor : Bambang Priyo Jatmiko
Sumber: www.nytimes.com,
TAG: