Sabtu, 25 Maret 2017

Ekonomi

Sukuk Ritel SR-009 Kurang Diminati Investor, Kenapa?

Senin, 20 Maret 2017 | 21:00 WIB
KONTAN/BAIHAKI Ilustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah hanya mampu menjual Sukuk Negara Ritel (Sukri) seri SR-009 senilai Rp 14,03 triliun, atau sekitar 70,15 persen dari target indikatif sebesar Rp 20 triliun.

Dikutip dari website djppr.kemenkeu.go.id, pada Senin (20/3/2017) penjualan Sukri SR-009 menjangkau 29.838 investor di seluruh provinsi di Indonesia.

Jumlah investor terbesar berada pada kisaran pembelian Rp 5 juta hingga Rp 100 juta (42,4 persen), disusul kisaran Rp 100 juta hingga Rp 500 juta (36,96 persen).

Tak jauh berbeda dari penjualan sebelumnya, jumlah investor terbesar berdasarkan wilayah berasal dari Indonesia bagian barat (tidak termasuk DKI Jakarta) mencapai 58,03 persen.

Sedangkan investor dari DKI Jakarta sendiri porsinya mencapai 34,12 persen dari total investor.

Sukri SR-009 ini ditawarkan dengan imbal hasil 6,9 persen per tahun (fixed rate), dengan pembayaran imbalan tanggal 10 setiap bulan, dan pembayaran pertama pada tanggal 10 April 2017.

Adapun tanggal jatuh tempo pada 10 Maret 2020. Sukri SR-009 dapat diperdagangkan di pasar sekunder mulai tanggal 10 April 2017.

Sementara itu, akad surat utang ini yakni Ijarah Asset to be Leased, dan dengan underlying asset-nya adalah proyek atau kegiatan APBN 2017 dan barang milik negara.

Jika dibandingkan dengan penjualan seri sebelumnya, kinerja Sukri SR-009 kali ini boleh dibilang jeblok.

Bandingkan dengan seri SR-008, waktu itu pemerintah bisa menjual sampai Rp 31,5 triliun atau Rp 1,5 triliun lebih tinggi dari target indikatifnya.

Akan tetapi pada saat itu, kupon imbal hasil yang ditawarkan memang cukup tinggi mencapai 8,3 persen. Agen penjualnya pun lebih banyak yaitu 26 agen, dibandingkan Sukri SR-009 yang hanya 22 agen.

Tetapi dibandingkan dengan Sukri seri SR-005 yang kuponnya tak terlalu jauh berbeda yaitu 6 persen, hasil penjualan Sukri SR-009 kali ini juga lebih rendah.

Sukri seri SR-005 terjual Rp 14,97 triliun hanya sedikit meleset di bawah target indikatif Rp 15 triliun. Saat itu, jumlah investor pembeli pun lebih sedikit yaitu 17.783 orang dibandingkan pembeli Sukri SR-009 yang mencapai 29.838 orang.

(Baca: Lewat Instagram, Sri Mulyani Ajak Masyarakat Beli Sukuk Ritel)

Rendah

Menurut Head of Macroeconomic and Financial Market Research PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) Andry Asmoro, kurang diminatinya Sukri SR-009 kemungkinan besar dikarenakan kupon imbal hasilnya yang rendah.

"Saya rasa lebih karena kuponnya yang rendah menurut investor," kata Andry kepada Kompas.com, Senin.

Selain itu, sambung Andry, jika dibandingkan dengan Sukri seri SR-005, ia menilai ketika Sukri SR-005 diterbitkan, pasar memiliki ekspektasi suku bunga akan turun.

"Hal yang sebaliknya untuk Sukri seri SR-009 kali ini. Ekspektasi investor tahun ini adalah bunga akan naik," kata Andry.

Kompas TV Pemerintah akan menerbitkan sukuk ritel alias surat utang ritel syariah 4 Februari ini sampai 2 Maret mendatang. Investasi mana yang lebih menarik, sukuk ritel ataukah reksadana? Sudah ada perencana keuangan prita ghozie untuk membahasnya.



Penulis: Estu Suryowati
Editor : Aprillia Ika
TAG: