Berapa Ekspektasi "Return" yang Wajar di Reksa Dana Pendapatan Tetap? - Kompas.com

Berapa Ekspektasi "Return" yang Wajar di Reksa Dana Pendapatan Tetap?

Rudiyanto Zh
Kompas.com - 11/04/2017, 09:00 WIB
Thinkstock/RomoloTavani Ilusrasti menabung dan investasi

KOMPAS.com - reksa dana pendapatan tetap adalah reksa dana yang kebijakan investasinya minimal 80 persen pada instrumen obligasi.

Dibandingkan instrumen lainnya, obligasi lebih berisiko dibandingkan deposito tapi lebih kecil jika dibandingkan saham. Berapakah tingkat return yang wajar untuk produk ini ?

Kesamaan antara obligasi dan deposito adalah memiliki jangka waktu jatuh tempo. Biasanya bisa lebih panjang antara 1 tahun hingga 30 tahun. Penerbit obligasi bukan hanya bank, tapi juga perusahaan swasta dan pemerintah.

Berbeda dengan tabungan bank yang dijamin oleh LPS, obligasi tidak dijamin oleh LPS sehingga memiliki tingkat risiko yang lebih tinggi. Namun karena hal itu pula, pada saat diterbitkan pertama kali, obligasi memberikan kupon atau bunga yang lebih tinggi dibandingkan dengan deposito.

Karena jatuh tempo yang panjang, untuk memudahkan investornya memperoleh dana jika dibutuhkan, obligasi dapat diperjual belikan. Dalam proses tersebut, harga obligasi bisa sama, lebih tinggi atau lebih rendah dibandingkan harga penerbitannya.

Dalam Bahasa yang lebih sederhana, misalkan anda membeli obligasi senilai 10 juta yang jatuh temponya 5 tahun, pada saat sudah berjalan 6 bulan dan anda berniat menjualnya, harganya bisa Rp 10 juta, di bawah Rp 10 juta atau di atas Rp 10 juta.

Hal ini tergantung pada kondisi suku bunga deposito bank pada saat transaksi jual beli dilakukan, jangka waktu jatuh tempo obligasi, besaran kupon yang ditawarkan, apakah ada berminat membelinya, dan risiko gagal bayar jika penerbitnya adalah perusahaan swasta.

Biasanya yang akan membuat harga obligasi naik adalah kondisi ketika suku bunga deposito bank lebih rendah pada saat transaksi, ada permintaan yang besar / cukup terhadap obligasi di pasar, dan perusahaan penerbit memiliki peringkat hutang yang baik.

Sebaliknya, ketika suku bunga deposito bank sedang naik pada saat obligasi dijual, ada kemungkinan harga obligasi akan turun karena bunga bank lebih menarik. Jangan lupa juga, atas keuntungan dari selisih harga penjualan, investor obligasi dikenakan pajak sebesar 15 persen.

Misalkan anda membeli obligasi senilai Rp 10 juta dan menjualnya senilai Rp 10.1 juta, maka atas keuntungan Rp 100.000 investor akan dikenakan pajak penghasilan final sebesar 15 persen yaitu Rp 15.000 yang akan dipotong langsung. Atas kupon yang didapatkan secara periodik, dikenakan pula pajak dengan besaran yang sama.

Salah satu keuntungan investasi obligasi melalui reksa dana adalah besaran pajak yang lebih kecil. Berdasarkan peraturan perpajakan, jika reksa dana yang membeli obligasi, maka besaran pajak yang dibayarkan adalah sebesar 5 persen hingga 2020 dan 10 persen untuk tahun 2021 dan selanjutnya.

Ketika berinvestasi di reksa dana pendapatan tetap, umumnya manajer investasi tidak membagikan kupon obligasi kepada investornya. Yang dilakukan adalah mereinvestasikan kupon tersebut sehingga pada akhirnya diharapkan menambah Nilai Aktiva Bersih per Unit (NAB per UP).

Jadi ketika melihat harga reksa dana pendapatan tetap, pergerakan tersebut sudah mencerminkan naik turunnya harga obligasi ditambah dengan hasil reinvestasi kupon. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah besaran fluktuasi harga obligasi.

Tidak jarang bagi harga obligasi khususnya yang diterbitkan oleh pemerintah, harga obligasinya bisa naik turun cukup signifikan. Bisa jadi, penurunan tersebut lebih besar dibandingkan kupon yang diterima sehingga jika dihitung dalam NAB per Up menghasilkan kinerja yang negatif.

Namun ketika naik, persentase kenaikannya juga lumayan sehingga jika ditambah dengan kupon yang diterima bisa mengalahkan kinerja saham dalam kurun waktu tertentu. Dalam 2-3 tahun belakangan, ketika kinerja saham sangat fluktuatif, kinerja reksa dana pendapatan tetap secara umum lebih baik dibandingkan reksa dana saham.

Untuk itulah, investor perlu mempertimbangkan reksa dana pendapatan tetap sebagai salah satu bentuk diversifikasi. Sebab jika semuanya ditempatkan di reksa dana saham walaupun strategi investasinya berbeda, ketika saham turun umumnya semua juga ikut turun. Dengan membagi ke dalam jenis yang berbeda, risiko fluktuasi dapat lebih diminimalisir.

Dengan kondisi ke depan seperti, suku bunga Amerika Serikat bakalan naik, peringkat hutang Indonesia yang saat ini sedang dikaji dengan potensi bisa naik bisa juga tetap, dan kondisi perekonomian Indonesia secara umum bagaimana dengan ekspektasi imbal hasil pada reksa dana pendapatan tetap?

Untuk memperkirakan tingkat return pada reksa dana pendapatan tetap, investor bisa melihat prospek pergerakan inflasi dan suku bunga pada masa mendatang. Ketika inflasi tinggi dan suku bunga naik, umumnya kinerja reksa dana pendapatan tetap akan kurang baik, sebaliknya ketika inflasi stabil dan suku bunga turun atau rendah, kinerja reksa dana pendapatan tetap akan baik.

Namun dalam jangka panjang, ada baiknya melihat kinerja secara historis untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas. Berikut ini adalah kinerja rata-rata reksa dana pendapatan tetap dari 2006 – 2016

Rudiyanto Return RD pendapatan tetap

Berdasarkan data 2006-2016, secara rata-rata, reksa dana pendapatan tetap pada umumnya membukukan tingkat return 8.16%. Tertinggi pernah memberikan hingga 17.73 persen dan pernah juga rugi hingga -4,53 persen.

Tentu angka di atas merupakan rata-rata sehingga jika dilihat produk per produk, ada yang bisa lebih tinggi dari 17,73 persen dan ada juga yang ruginya lebih besar dari -4,53 persen.

Berdasarkan kondisi ekonomi global dan domestik dan tren suku bunga dalam jangka panjang serta kinerja historis reksa dana, bisa dikatakan bahwa antara 7-10 persen merupakan tingkat keuntungan yang wajar dalam investasi reksa dana pendapatan tetap.

Mengingat kinerja obligasi yang juga bisa naik turun, ketika tingkat inflasi tinggi dan suku bunga akan naik, investor tetap perlu berhati-hati terhadap risiko penurunan.

Demikian artikel kali ini, semoga bermanfaat.

EditorBambang Priyo Jatmiko
Komentar
Close Ads X