Tak Masalah Jika S&P Tak Beri "Investment Grade" untuk Indonesia - Kompas.com

Tak Masalah Jika S&P Tak Beri "Investment Grade" untuk Indonesia

Sakina Rakhma Diah Setiawan
Kompas.com - 16/05/2017, 17:49 WIB
KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG Suasana deretan gedung bertingkat tingkat tinggi atau high rise di Jakarta Pusat, Senin (9/1/2017). Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional pada tahun 2017 mencapai kisaran 5,1 hingga 5,3 persen.

JAKARTA, KOMPAS.com - Lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor's (S&P) dikabarkan bakal segera mengumumkan hasil peringkat mereka terhadap Indonesia.

Diharapkan S&P dapat mengganjar Indonesia dengan predikat investment grade, sehingga citra Indonesia di mata investor semakin baik.

Akan tetapi, bagaimana jika S&P tidak memberikan predikat bergengsi tersebut kepada Indonesia?

Ekonom dan pembina Perhimpunan Bank-bank Nasional (Perbanas) Aviliani menilai, tidak masalah jika S&P tidak memberikan predikat investment grade kepada Indonesia.

"Saya tidak melihat lagi S&P sebagai salah satu yang benar-benar diperhatikan oleh investor asing. Menurut saya tidak usah terlalu khawatir dengan S&P," kata Aviliani kepada wartawan di Jakarta, Selasa (16/5/2017).

Menurut Aviliani, Indonesia masih dipandang menjanjikan oleh investor asing. Salah satu hal yang dipandang oleh investor asing adalah peristiwa apapun, termasuk yang berkaitan dengan politik, tidak terjadi berkepanjangan di Indonesia dan hanya berlangsung sebentar, serta tak anarkis.

Hal ini berbeda dengan beberapa negara yang sebenarnya potensial untuk investasi namun kurang kondusif dalam hal politik dan keamanan.

Citra keamanan, menurut Aviliani, harus dijaga dengan serius oleh Indonesia agar terus dilirik oleh investor.

Dalam memberikan predikat, imbuh dia, S&P tentu akan melakukan serangkaian pengukuran dan analisis. Beberapa aspek yang dinilai antara lain stabilitas makroekonomi dan keamanan.

"Kalau kita lihat dari analisis-analisis lembaga internasional, kita (Indonesia) dianggap risikonya tidak terlalu tinggi dibandingkan negara-negara lain kalau (ada) konflik. Seperti Pilkada misalnya, kita dianggap tidak separah negara lain," ungkap Aviliani.

Pandangan semacam itu, jelas Aviliani, harus dimanfaatkan secara optimal oleh Indonesia untuk menarik minat investor. Selain itu, ia juga menuturkan Indonesia sebaiknya tidak hanya membidik satu negara terkait investasi.

"Kalau perlu semua negara masuk ke sini dan investasinya macam-macam. Jangan hanya satu investasi," ungkap Aviliani.

Sekadar informasi, S&P menjadi satu-satunya lembaga pemeringkat internasional terkemuka yang belum memberikan predikat investment grade kepada Indonesia.

Lembaga pemeringkat lain, seperti Moody's dan Fitch Ratings sudah memberikan predikat tersebut.

Beberapa waktu lalu, perwakilan S&P sudah melakukan pertemuan dengan perwakilan pemerintah dan otoritas terkait, seperti Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memperoleh informasi terkini mengenai kondisi perekonomian Indonesia.

(Baca: Apa Efeknya Jika S&P Tidak Berikan Peringkat "Investment Grade"?)

Kompas TV Lembaga Rating Moody's Investors Service memperbaiki outlook rating kredit Indonesia dari stabil menjadi positif. Perbaikan rating ini dipicu menurunnya dampak kerentanan ekonomi dunia pada perekonomian Indonesia. Moody's menilai kebijakan yang diambil berbagai otoritas di Indonesia cukup efektif dalam meredam dampak gejolak ekonomi dunia. Moodys menambahkan, reformasi kebijakan subsidi BBM dan penguatan manufaktur pengganti impor juga turut memperkuat posisi ekonomi domestik Indonesia. Bila hal ini berlanjut, Moody’s membuka kemungkinan perbaikan rating lebih lanjut.

PenulisSakina Rakhma Diah Setiawan
EditorAprillia Ika
Komentar
Close Ads X