Berkaca Reformasi Migas dari Negeri Telenovela - Kompas.com
BrandzView
Kompas.com dan IPA CONVEX 2017

Berkaca Reformasi Migas dari Negeri Telenovela

Haris Prahara
Kompas.com - 19/05/2017, 19:11 WIB
Rekayasa Industri Proyek PLTP Lahendong. Proyek milik PT Pertamina Geothermal Energy yang dibangun PT Rekayasa Industri ini terletak di Kecamatan Tompaso, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara.

JAKARTA, KOMPAS.com –
Maria Mercedes, Marimar, Rosalinda, dan Carita de Angel. Ya, itulah nama seri telenovela yang meledak di Indonesia dan dunia belasan tahun silam. Berkat telenovela, Meksiko pun menjadi negara populer di dunia internasional. 
 
Dikutip dari fortune.com, Grupo Televisa sebagai rumah produksi terbesar di Meksiko pernah menguasai hingga 70 persen rating televisi di negaranya. Semua itu disebabkan kepiawaian mereka dalam menggarap telenovela.
 
Bahkan, pada masa kejayaannya antara 1990 hingga 2000, Grupo Televisa dapat menggelontorkan dana hingga lebih dari satu miliar dollar AS setahun untuk memproduksi telenovela. Sebuah angka prestisius pada masa itu.
 
Kini, Meksiko tak dapat dipandang sebagai negeri telenovela saja. Negara di utara Amerika itu telah bertransformasi menjadi salah satu barometer kesuksesan tata kelola migas. Seperti apa kisahnya?
 
Menurut hasil penelitian Policy Options, reformasi migas Meksiko mulai menggeliat dalam tiga tahun terakhir. Awalnya, lelang blok migas di Meksiko pada Desember 2014 sepi peminat. Dari 14 blok migas untuk laut dangkal yang dilelang, hanya dua kontraktor yang tertarik ikut. 
 
Setelah berbagai penataan sektor migas, banyak investor yang mulai melirik Meksiko. Dari lima blok migas di laut dangkal yang dilelang pada Februari 2015, tiga blok telah laku. Lelang berikutnya pada Mei 2015 pun lebih menggembirakan, dari 25 blok migas darat yang dilelang, seluruhnya laku.
 
Investasi terbuka
 
Direktur Jenderal Relasi Investor dan Promosi Secretaria de Energia de Mexico Nicole David Palau mengatakan, kunci reformasi migas Meksiko adalah membuka investasi migas seluas-luasnya bagi pihak swasta dalam negeri maupun asing.
 
"Sejak 2013, pemerintah Meksiko mengambil kebijakan cukup berani dengan mengakhiri dominasi Pemex sebagai perusahaan milik negara. Padahal, Pemex telah memonopoli sektor migas Meksiko selama 75 tahun," ungkap Nicole dalam diskusi Konvensi dan Pameran Asosiasi Perminyakan Indonesia (IPA) 2017 yag diselenggarakan oleh PT Dyandra Promosindo di Jakarta, Rabu (17/5/2017).
 
Nicole berbicara dalam forum yang sama dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia Ignasius Jonan.

Pembicara lainnya adalah Presiden IPA Christina Verchere, Direktur Riset Wood Mackenzie Bidang Hulu Migas Asia Pasifik Andrew Harwood, dan praktisi migas McKinsey, Azam Mohammad. Adapun Konvensi dan Pameran IPA tersebut merupakan pergelaran ke-41 kalinya.

 
Keterbukaan investasi tersebut, lanjut Nicole, didukung pula dengan langkah politik melalui amandemen peraturan migas. Hal itu memacu terciptanya industri migas yang kompetitif di Meksiko.
 
Saat ini, peraturan migas di Meksiko telah disederhanakan menjadi kurang dari 50 regulasi. Salah satu perubahan yang signifikan, kata Nicole, adalah skema kontrak berdasarkan wilayah kerja. Itu membuat eksplorasi migas di Meksiko lebih masif dan membuat temuan minyak menjadi bertambah.
Kompas.com/ Haris Prahara Salah satu sesi diskusi pada IPA Convex 2017, Rabu (17/5/2017), di Jakarta.
 
Mengutip Reuters, saat ini di Meksiko terdapat 15 kontrak pada blok eksplorasi baru di laut dangkal seluas 8.900 kilometer persegi. Kehadiran 15 kontrak kerja sama itu menambah investasi migas Meksiko sekitar 11 miliar dollar AS.
 
"Semua perubahan itu butuh komitmen kuat pemerintah dalam meraih dukungan dan persetujuan sejumlah partai di dewan perwakilan rakyat Meksiko," ucap Nicole.
 
Ia menambahkan, pada awalnya memang terjadi polemik mengenai perubahan regulasi migas Meksiko.

"Akan tetapi, presiden dan menteri kami secara gigih mendorong pihak legislatif untuk melihat manfaat jangka panjang bagi negara. Hasil perubahan itu memang tidak instan, tetapi manfaatnya besar puluhan tahun ke depan," papar Nicole. 

 
Sementara itu, Andrew berpendapat, Meksiko dapat menjadi pengalaman bagi negara lain dalam mereformasi sektor migasnya, termasuk Indonesia. "Perubahan regulasi serta birokrasi di Meksiko mendapatkan hasil ketika banyak investor yang mau berinvestasi migas di negara itu," ujarnya.
 
Menurut Andrew, transparansi prosedur perizinan, regulasi, dan implementasi yang baik menjadi kunci kesuksesan menarik investor migas pada suatu negara.
 
Langkah Indonesia
 
Menanggapi reformasi migas Meksiko, Menteri ESDM Ignasius Jonan mengatakan, pihaknya pun tengah mengupayakan berbagai kemudahan untuk menarik investor migas di Indonesia. 
 
Salah satunya adalah mempercepat proses birokrasi untuk investasi hulu migas. Sebagai informasi, berdasarkan data SKK Migas, saat ini terdapat 373 perizinan di lebih dari 10 kementerian atau lembaga pada sektor hulu migas.
 
"Kami berusaha menyederhanakan proses bisnis, meskipun tidak semua licensing (perizinan) bisa dihapus. Yang terpenting, prosesnya harus cepat," kata Jonan.
 
Selain itu, lanjut Jonan, pemerintah tengah membahas revisi UU Migas dengan DPR. Revisi tersebut diharapkan akan membuat sektor migas Indonesia menggeliat.
 
Berdasarkan data IPA, investasi hulu migas Indonesia turun dari 15,34 miliar dollar AS pada 2015 menjadi 11,15 miliar dollar AS pada 2016. Wilayah kerja migas pun berkurang dari 233 wilayah pada 2012 menjadi 199 wilayah pada 2016.
 
Berkaca pada fakta migas Indonesia saat ini, Jonan menambahkan, pemerintah terbuka terhadap rekomendasi atau masukan yang diberikan pelaku industri migas di Indonesia. 
 
Menurut Presiden IPA Christina Verchere, selain birokrasi dan perizinan, diperlukan pula kebijakan fiskal dan insentif pajak yang lebih menarik dan kompetitif untuk menggairahkan sektor migas Tanah Air.
 
Ya, semoga saja masa depan migas Indonesia dapat bersinar terang, secerah kisah telenovela yang melegenda itu…
 

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisHaris Prahara
EditorSri Noviyanti
Komentar