Kebanyakan Menabung Menurunkan Daya Beli? - Kompas.com

Kebanyakan Menabung Menurunkan Daya Beli?

Teddy Oetomo
Kompas.com - 20/05/2017, 12:00 WIB
THINKSTOCK.COM Ilustrasi.

Kita sering kali mendengar banyak pembahasan tentang pentingnya menabung. Namun, apakah mungkin seseorang menabung terlalu banyak? Dan apa dampaknya bila menabung terlalu banyak?

Sering kita mendengar dari orang tua kita bahwa kita wajib menabung. Memang menabung adalah sesuatu yang sangat penting. Tetapi perlu diingat bahwa kita hidup tidak untuk uang, namun untuk hidup kita perlu uang.

Dengan bunga tabungan seringkali jauh di bawah inflasi, sebenarnya setiap kali kita menabung, kita mengurangi kapasitas konsumsi kita, menggerus gaya hidup kita dan sehingga sebenarnya sedikit menguras arti dari kehidupan.

Bahkan deposito bank seringkali hanya menawarkan bunga yang setaraf dengan inflasi dan maka itu, kita sebenarnya hanya memindahkan kapasitas konsumsi kita hari ini ke masa depan, tanpa menambah kapasitas tersebut sama sekali.

Tanpa disadari, konsumsi sendiri merupakan sesuatu yang sangat penting bagi kehidupan kita. Memang harus diakui bahwa konsumsi berlebih sangat berbahaya bagi masa depan kita. Namun, terlalu mengetatkan konsumsi demi tabunganpun bisa berimbas pada arti kehidupan kita.

Seberapa sering kita mendengar pertikaian suami istri, bahkan sampai percerain, dikarenakan masalah finansial keluarga. Hal ini pada dasarnya dikarenakan perbedaan pendapat antara jumlah konsumsi yang dikehendaki antara sang suami dengan sang istri.

Memiliki tabungan yang cukup untuk menjaga terhadap keperluan mendadak, seperti berobat, atau apabila tiba-tiba kita kehilangan sumber mata pencaharian, memang sesuatu yang sangat diperlukan. Namun jumlah yang ditabungpun sebaiknya tidak sampai terlalu berlebih. Hal ini dikarenakan uang yang ditabung sebenarnya tidak memberikan peningkatan pada daya beli kita di depan.

Masyarakat Indonesia yang saat ini berumur di atas 40 tahun mungkin telah merasakan bagaimana dengan jerih payah kerja keras mereka menabung. Namun daya beli tersebut tergerus habis oleh inflasi akibat kondisi ekonomi Indonesia, seperti pengalaman tahun 1987 dan 1998.

Selama hidup mereka mengetatkan konsumsi, bahkan bukan tidak mungkin, menggerus arti dari hidup mereka sendiri, karena dalam hidup, konsumsi adalah sebuah keharusan.

Dengan usia bertambah lanjut, mereka menyadari bahwa uang yang telah ditabung ternyata memiliki daya beli yang jauh lebih rendah sekarang. Sehingga mimpi mereka untuk dapat meningkatkan konsumsi, daya beli dan arti hidup di usia yang lebih lanjutpun tidak dapat tercapai.

Dari pengalaman tersebut, dapat dilihat bahwa sebenarnya sangat penting bagi kita untuk mengatur keuangan kita. Pertama, kita harus mendapatkan jumlah kebutuhan konsumsi yang sesuai penghasilan dan makna hidup yang di inginkan.

Kemudian, setiap individual memang harus mengesampingkan sebagian dari penghasilan mereka untuk tabungan, sebagai bentuk penjagaan apabila terdapat kebutuhan yang mendadak. Namun, setelah itu, sisa uang yang tersedia seyogyanya diinvestasikan untuk mendapatkan hasil yang lebih tinggi dari inflasi.

Dengan hasil investasi yang lebih tinggi dari inflasi, setiap Rupiah yang dikurangkan dari kapasitas konsumsi kita hari ini dan diinvestasikan, akan memberikan daya lebih yang lebih di masa depan dibandingkan hari ini. Sehingga, di masa depan, individu tersebut dapat meningkatkan kapasitas konsumsi dan semoga juga meningkatkan gaya hidup dan juga arti dari kehidupan mereka.

 

 

 

 

EditorAprillia Ika
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM