"E-Commerce" dalam Keuangan: Membangun Kanal Distribusi Digital Baru - Kompas.com

"E-Commerce" dalam Keuangan: Membangun Kanal Distribusi Digital Baru

John Patrick Ellis
Kompas.com - 15/06/2017, 12:00 WIB
Thinkstock/Daviles Ilustrasi e-commerce

Salah satu keyakinan era ‘genesis internet’ pada pertengahan hingga akhir 1990an adalah bahwa seluruh aspek vertikal ekonomi akan bermigrasi secara online. Praktis, seluruh sektor – termasuk jasa keuangan digital – mengikuti semangat tersebut, dengan antusiasme tanpa batas.

Terdapat gagasan-gagasan besar dari era tersebut; perbankan berbasis internet, pembayaran digital, penjaminan langsung, investasi terautomasi, analisis komparatif suku bunga dan bahkan soal mata uang yang terdesentralisasi.

Dari sekian banyak perusahaan yang masuk dalam klasifikasi pra- fintech, hanya beberapa yang berhasil menjadi merek global. Segelintir pula yang menuai sukses di negara tertentu atau dalam kelompok pasar tertentu. Umumnya, perusahaan pada era tersebut terenggut oleh seleksi alam. Keuangan berbasis internet pun sempat ‘hibernasi’. Satu dekade kemudian, diawali krisis keuangan global 2008, berbagai ide terkait ‘ fintech’ bangkit kembali.

Konsensus baru terbentuk, bahwa berbagai katalis berbenturan dan mengakibatkan: krisis keuangan yang menimbulkan ketidakpercayaan pada lembaga keuangan konvensional; sejumlah regulasi muncul dan sangat membatasi pergerakkan lembaga, namun tidak dapat menahan perkembangan para pakar teknologi; terciptanya smartphone yang terdistribusi secara global dengan pesat; ribuan individu dengan berbagai keahlian keuangan spesifik mencari sumber penghasilan baru; adanya satu kebijakan moneter yang diadopsi oleh bank sentral di banyak negara, yang membuka dunia dengan akses modal berbunga rendah; munculnya berbagai inovasi seperti blockchain; dan tren modal dari private equity yang mengalir ke sektor keuangan berbasis internet.

Seperti udara yang menggelembungkan sebuah balon, sektor fintech secara global mengalami inflasi. Amerika Serikat, Eropa, Cina dan India secara simultan mengalami ledakan inovasi keuangan berbasis teknologi. Namun faktor penggerak utama dari setiap ekspansi pasar, sangatlah berbeda dalam hal karakteristik.

Di dunia barat, para wirausahawannya menciptakan sebuah narasi mengenai disintermediasi, hipotesa mengenai disrupsi yang menggambarkan lembaga keuangan konvensional menjelang kiamat akibat teknologi. Pesan-pesan pemasarannya pun bermain dengan konsep kepercayaan dan generalisasi yang bercabang.

Di dunia timur, dimana sejumlah besar masyarakatnya kurang atau tidak memiliki akses sama sekali terhadap jasa keuangan, berkembang narasi yang sama sekali berbeda; bahwa inklusi, partisipasi, dan pertumbuhan, lebih potensial dibandingkan disrupsi dan disintermediasi.

Di negara dimana tidak terdapat cukup data dan infrastruktur untuk melayani warganya, lembaga keuangan ibarat pulau-pulau tanpa jembatan untuk terkoneksi. Banyak warga, meski memiliki keinginan, tidak mendapatkan layanan sama sekali. Smartphone dan data yang tercipta dari jejak gaya hidup digital pengguna-lah yang membangun jembatan itu, dan pada akhirnya mempertemukan suplai dengan permintaan.

Dua elemen tersebut bertemu dalam skala besar dan inovasi luar biasa mulai bermunculan di Cina dan India. Permintaan yang tinggi mendorong pertumbuhan pesat aplikasi web dan mobile, dan acapkali dikemas menjadi satu dan saling melengkapi layanan digital.

Namun, sisi suplai – terlalu lama berkutat dalam dunia analog – tidak melakukan lompatan langsung, terlebih ke platform digital. Terjadi kelangkaan persediaan yang membuat para penyedia jasa tidak berkompetisi layaknya di dunia barat. Di belahan timur, penyedia jasa bermanifestasi menjadi satu untuk memberikan akses bagi masyarakat yang sebelumnya tidak tersentuh. Sekejap saja, perusahaan fintech raksasa bermunculan – bukan akibat kompetisi namun sebagai hasil inovasi.

Pertumbuhan pesat itu terjadi karena; jangkauan; yang dimungkinkan oleh perkembangan teknologi smartphone; dan resiko yang semakin mudah diprediksi berkat data yang sebelumnya tertutup dalam lembaga keuangan kini mudah diakses. Saat dua faktor di atas bertemu, pada skala tertentu, keajaiban inovasi muncul dan valuasi saham di pasar melonjak.

Khususnya di Indonesia, Thailand dan Filipina – kekuatan tersebut pun mulai mengambil sebuah bentuk. Tidak banyak faktor ‘jangkauan’ dan ‘resiko’ terdeteksi di antara lembaga keuangan konvensional dan pasar yang ada secara umum, maka hanya beberapa perusahaan saja – termasuk C88 Financial Technologies, yang memiliki portal keuangan sendiri dalam bentuk CekAja.com di Indonesia dan eCompareMo.com di Filipina. Mereka berpacu membangun sebuah paradigma distribusi fintech mutakhir.

Setiap perusahaan menjawab tantangan dengan menggunakan kekuatan uniknya masing-masing: mereka yang memiliki frekuensi akan mencoba menggabungkan berbagai layanan; mereka yang memiliki data akan mencoba membangun sebuah model yang lebih baik dan lebih cepat; mereka yang memiliki infrastruktur akan mencoba berbagai kemungkinan untuk meningkatkan bertransaksi.

Semua pihak berlomba dalam mengembangkan ‘jangkauan’ dan ‘antisipasi resiko’ secepatnya, untuk menikmati buah keberhasilan bernilai miliaran atau bahkan triliunan dollar, dalam beberapa dekade ke depan, seiring bonus demografi di Asia Tenggara yang menggiring partisipasi ekonomi dalam skala besar. Semuanya menuju suatu keadaan metastatik seputar simpanan, pinjaman, investasi dan asuransi.

EditorAprillia Ika
Komentar
Close Ads X