Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pemerintah Tidak Maksimal Lindungi Buruh Migran

Kompas.com - 15/09/2009, 15:14 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Banyaknya kasus yang menimpa tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri dituding sebagai salah satu masalah yang muncul akibat belum maksimalnya kebijakan pemerintah atas perlindungan buruh migran selama 5 tahun terakhir ini.

Demikian disampaikan Direktur Pusat Kajian FISIP Universitas Indonesia, Ida Ruwaida, Selasa (15/9). "Kebijakan pemerintah kurang maksimal, selama ini tidak memprioritaskan agenda perlindungan terhadap pembantu rumah tangga baik domestik dan migran," ujar Ida, di Jakarta.

Selain itu, Ida juga memberikan berbagai catatan atas kinerja Erman Suparno sebagai Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi yang dinilai belum mampu memberikan perlindungan bagi buruh migran.

Di antaranya, gagal membentuk kebijakan bilateral dengan negara-negara penerima TKI soal perlindungan tenaga kerja. Kemudian, nota kesepahaman (MoU) yang pernah dibuat antara Indonesia dengan Malaysia tentang penempatan Domestic Workers juga dinilai melanggar Hak Asasi Manusia.

Pemerintah juga tidak mempunyai kemauan politik untuk meratifikasi konvensi PBB 1990 tentang perlindungan buruh migran dan anggota keluarganya. "Justru pemerintah mendiamkan dan melanggenggkan praktek eksploitasi dan pemerasan di terminal TKI," ujarnya.

Disamping itu, sinergi antara Depnakertrans dan Deplu tidak optimal dalam melakukan diplomasi pembelaan buruh migran yang terancam hukuman mati. "Ini menyebabkan banyak kasus TKI kita dihukum mati di luar negeri," cetusnya.

Konflik antara Depnakertrans dengan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) yang berkepanjangan juga mengakibatkan terabaikannya perlindungan buruh migran Indonesia sehingga merugikan nasib mereka.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Punya KPR BCA? Ini Cara Cek Angsurannya Lewat myBCA

Punya KPR BCA? Ini Cara Cek Angsurannya Lewat myBCA

Work Smart
APRIL Group Terjun ke Bisnis Kemasan Berkelanjutan, Salah Satu Investasi Terbesar di Sumatra dalam Satu Dekade

APRIL Group Terjun ke Bisnis Kemasan Berkelanjutan, Salah Satu Investasi Terbesar di Sumatra dalam Satu Dekade

BrandzView
Siap-siap, BSI Bakal Tebar Dividen Rp 855,56 Miliar

Siap-siap, BSI Bakal Tebar Dividen Rp 855,56 Miliar

Whats New
Kalbe Farma Umumkan Dividen dan Rencana 'Buyback' Saham

Kalbe Farma Umumkan Dividen dan Rencana "Buyback" Saham

Whats New
Pos Indonesia Ubah Aset Gedung Jadi Creative Hub E-sport

Pos Indonesia Ubah Aset Gedung Jadi Creative Hub E-sport

Whats New
IHSG Lanjutkan Kenaikan Tembus Level 7300, Rupiah Tersendat

IHSG Lanjutkan Kenaikan Tembus Level 7300, Rupiah Tersendat

Whats New
Pengusaha Korea Jajaki Kerja Sama Kota Cerdas di Indonesia

Pengusaha Korea Jajaki Kerja Sama Kota Cerdas di Indonesia

Whats New
Menko Airlangga Siapkan Pengadaan Susu untuk Program Makan Siang Gratis Prabowo

Menko Airlangga Siapkan Pengadaan Susu untuk Program Makan Siang Gratis Prabowo

Whats New
Enzy Storia Keluhkan Bea Masuk Tas, Stafsus Sri Mulyani: Kami Mohon Maaf

Enzy Storia Keluhkan Bea Masuk Tas, Stafsus Sri Mulyani: Kami Mohon Maaf

Whats New
Waskita Karya Optimistis Tingkatkan Pertumbuhan Jangka Panjang

Waskita Karya Optimistis Tingkatkan Pertumbuhan Jangka Panjang

Whats New
Apresiasi Karyawan Tingkatkan Keamanan dan Kenyamanan di Lingkungan Kerja

Apresiasi Karyawan Tingkatkan Keamanan dan Kenyamanan di Lingkungan Kerja

Whats New
Potensi Devisa Haji dan Umrah Capai Rp 200 Triliun, Menag Konsultasi dengan Sri Mulyani

Potensi Devisa Haji dan Umrah Capai Rp 200 Triliun, Menag Konsultasi dengan Sri Mulyani

Whats New
Kartu Prakerja Gelombang 68 Sudah Dibuka, Ini Syarat dan Cara Daftarnya

Kartu Prakerja Gelombang 68 Sudah Dibuka, Ini Syarat dan Cara Daftarnya

Whats New
MARK Tambah Jajaran Direksi dan Umumkan Pembagian Dividen

MARK Tambah Jajaran Direksi dan Umumkan Pembagian Dividen

Whats New
Miliki Risiko Kecelakaan Tinggi, Bagaimana Penerapan K3 di Lingkungan Smelter Nikel?

Miliki Risiko Kecelakaan Tinggi, Bagaimana Penerapan K3 di Lingkungan Smelter Nikel?

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com