Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perusahaan Skotlandia Gagal Batalkan Merek Habitat

Kompas.com - 04/11/2013, 09:37 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com -
Safehouse Habitat Limited (Skotlandia) gagal membatalkan merek Habitat milik Hot Hed International,SA.Panama. Pengadilan Niaga Jakarta Pusat menolak gugatan pembatalan merek Habitat.

"Menyatakan gugatan penggugat tidak dapat diterima," ujar ketua majelis hakim Gosen Butar Butar, Jumat  (1/11/2013).

Menurut pertimbangan majelis, pengajuan pembatalan merek Habitat oleh Safehouse tidak memenuhi syarat. Safehouse belum mendaftarkan merek Habitat miliknya di Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual. Sementara pasal 68 ayat 2 Undang-undang nomor 15 tahun 2001 tentang merek menyatakan pemilik merek yang tidak terdaftar dapat mengajukan gugatan pembatalan merek setelah mendaftarkan mereknya di Dirjen HKI.

Menanggapi putusan ini, kuasa hukum Safehouse, Marta Sari bermaksud mengajukan gugatan lagi. "Kami akan daftar dulu, setelah itu ajukan gugatan," ujarnya usai persidangan.

Sementara kuasa hukum Hot Hed, Donald Halasan Siahaan menyambut baik. "Kami sudah pernah digugat tahun 2009. Saat itu Hot Hed juga menang," katanya.

Safehouse dan Hot Hed sebelumnya memperebutkan merek Habitat di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat. Safehouse meminta pengadilan membatalkan merek HABITAT yang didaftarakan Hot Hed di bawah No.538991 dan perpanjangan No. IDM000335887. Perseroan yang berkedudukan di Strathmore House, United Kingdong ini tidak terima dengan pendaftaran merek HABITAT oleh Hot Hed lantaran memiliki persamaan pada keseluruhannya dengan merek Safehouse Habitat miliknya.

Safehouse mengklaim sebagai pemilik dan pemegang satu-satunya merek Safehouse Habitat. Merek ini didaftarkan untuk melindungi barang di kelas 19 yaitu produk alat yang digunakan dalam industri minyak dalam bentuk bukan mesin namun dapat ditiup atau dapat digelembungkan dalam bentuk panel-panel yang digunakan di dalam air atau lingkungan yang sulit.

Merek Safehouse Habitat merupakan merek terkenal dengan jangkauan nasional, regional ,dan internasional. Produknya punterkenal karena telah dipromosikan dan diproduksi secara berkesinambungan serta terdaftar di Manca Negara. Nama Safehouse Habitat juga merupakan kepanjangan dari nama badan usaha penggugat, yaitu Safehouse Habitat (Scotland) Limited.

Safehouse menuding Hot Hed mendaftarkan merek Habitat dengan itikad yang tidak baik, yaitu ingin membajak, meniru, serta membonceng ketenaran dan kemashuran merek Safehouse Habitat yang telah terdaftar dan diakui dalam dunia international. Hal ini merupakan perbuatan tidak jujur dan bertentangan dengan ketertiban umum sehingga dapat menyesatkan khalayak ramai. (Wuwun Nafsiah)

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Cara Isi Token Listrik secara Online via PLN Mobile

Cara Isi Token Listrik secara Online via PLN Mobile

Work Smart
Pencabutan Status 17 Bandara Internasional Tak Berdampak ke Industri Penerbangan

Pencabutan Status 17 Bandara Internasional Tak Berdampak ke Industri Penerbangan

Whats New
Emiten Sawit Milik TP Rachmat (TAPG) Bakal Tebar Dividen Rp 1,8 Triliun

Emiten Sawit Milik TP Rachmat (TAPG) Bakal Tebar Dividen Rp 1,8 Triliun

Whats New
Adu Kinerja Keuangan Bank BUMN per Kuartal I 2024

Adu Kinerja Keuangan Bank BUMN per Kuartal I 2024

Whats New
Setelah Investasi di Indonesia, Microsoft Umumkan Bakal Buka Pusat Data Baru di Thailand

Setelah Investasi di Indonesia, Microsoft Umumkan Bakal Buka Pusat Data Baru di Thailand

Whats New
Emiten Persewaan Forklift SMIL Raup Penjualan Rp 97,5 Miliar pada Kuartal I 2024

Emiten Persewaan Forklift SMIL Raup Penjualan Rp 97,5 Miliar pada Kuartal I 2024

Whats New
BNI Danai Akusisi PLTB Sidrap Senilai Rp 1,76 Triliun

BNI Danai Akusisi PLTB Sidrap Senilai Rp 1,76 Triliun

Whats New
Soroti Kinerja Sektor Furnitur, Menperin: Masih di Bawah Target

Soroti Kinerja Sektor Furnitur, Menperin: Masih di Bawah Target

Whats New
Harga Jagung Turun di Sumbawa, Presiden Jokowi: Hilirisasi Jadi Kunci Stabilkan Harga

Harga Jagung Turun di Sumbawa, Presiden Jokowi: Hilirisasi Jadi Kunci Stabilkan Harga

Whats New
IHSG Ditutup Merosot 1,61 Persen, Rupiah Perkasa

IHSG Ditutup Merosot 1,61 Persen, Rupiah Perkasa

Whats New
Emiten TPIA Milik Prajogo Pangestu Rugi Rp 539 Miliar pada Kuartal I 2024, Ini Sebabnya

Emiten TPIA Milik Prajogo Pangestu Rugi Rp 539 Miliar pada Kuartal I 2024, Ini Sebabnya

Whats New
BI Beberkan 3 Faktor Keberhasilan Indonesia Mengelola Sukuk

BI Beberkan 3 Faktor Keberhasilan Indonesia Mengelola Sukuk

Whats New
Pertemuan Tingkat Menteri OECD Dimulai, Menko Airlangga Bertemu Sekjen Cormann

Pertemuan Tingkat Menteri OECD Dimulai, Menko Airlangga Bertemu Sekjen Cormann

Whats New
Induk Usaha Blibli Cetak Pendapatan Bersih Rp 3,9 Triliun pada Kuartal I 2024

Induk Usaha Blibli Cetak Pendapatan Bersih Rp 3,9 Triliun pada Kuartal I 2024

Whats New
Kembali ke Aturan Semula, Barang Bawaan dari Luar Negeri Tak Lagi Dibatasi

Kembali ke Aturan Semula, Barang Bawaan dari Luar Negeri Tak Lagi Dibatasi

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com