Sabtu, 1 November 2014

Ekonomi / Makro

Pemerintah Pangkas Asumsi Makro RAPBN 2014

Rabu, 28 Agustus 2013 | 21:02 WIB
KONTAN/AHMAD FAUZIE Ilustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah mengubah asumsi dasar ekonomi makro dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2014. Outlook yang diberikan lebih rendah dari rancangan yang diumumkan pemerintah Jumat lalu (16/8).

Pertumbuhan ekonomi misalnya, diprediksi berada di kisaran 5,8-6,1 persen atau meleset jauh dibanding RAPBN 2014 yang diumumkan sebesar 6,4 persen. Inflasi diproyeksi 4,5-5,5 persen, sebelumnya sebesar 4,5 persen. Untuk nilai tukar rupiah yang sebelumnya Rp 9.750 per dollar AS, turun menjadi 10.000-10.500 per dollar Amerika Serikat (AS).

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Bambang Brodjonegoro mengungkapkan, penetapan asusmi baru ini adalah akibat perkembangan situasi ekonomi terkini yang suram. Pemerintah bertekad menjaga pertumbuhan ekonomi di tahun 2014 akan dijaga di level 6 persen.

Untuk suku bunga SPN 3 bulan tetap di level 5,5 persen. Harga minyak juga tetap di US$106 per barel. Lifting minyak tidak mengalami perubahan di posisi 870.000 barel per hari.

Kondisi ekonomi 2013 yang diperkirakan meleset dari asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2013 berdampak pada perlu dilakukannya penyesuaian asumsi dasar ekonomi makro RAPBN 2014.

"Kita mengusulkan jangan terlalu optimislah sekarang. Kita harus realistis," ujar Bambang di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Rabu (28/8).

Berbeda dengan pemerintah, Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo menjelaskan pertumbuhan ekonomi 2014 diperkirakan berada dalam kisaran 6,0-6,4 persen. Meski demikian, ekonomi nasional dalam tren melambat yang dipengaruhi pertumbuhan ekonomi dunia yang belum kuat dan menurunnya daya beli domestik.

Pada 2014, Agus memperkirakan nilai tukar rupiah akan stabil sejalan dengan prospek perbaikan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI). BI memprediksi nilai tukar rupiah di tahun 2014 sebesar 10.500-10.700, lebih tinggi dari proyeksi pemerintah sendiri.

"BI akan menempuh berbagai kebijakan guna tercapainya stabilitas makro dan terjaganya sistem keuangan sebagai kesinambungan ke depan," papar Agus.

Adapun untuk tahun 2013 ini sendiri, pemerintah memproyeksikan pertumbuhan sebesar 5,9 persen dan nilai tukar rupiah Rp 10.200 per dollar AS. Ini juga melesat jauh dari asumsi APBNP 2013 dengan pertumbuhan dipatok 6,3 persen dan rupiah Rp 9.600 per dollar AS. (Margareta Engge Kharismawati)

Editor : Bambang Priyo Jatmiko
Sumber: Kontan