Kamis, 30 Maret 2017

Ekonomi

Kisah Ketimpangan dan Diskriminasi di Surga Kecil Tanah Papua

Jumat, 24 Februari 2017 | 22:32 WIB
Pramdia Arhando/Kompas.com Diskusi PARA Syndicate terkait polemik Freeport Indonesia diskusi di kantor PARA Syndicate, di Jakarta Selatan, Jumat (24/2/2017).

JAKARTA, KOMPAS.com - Lirik Lagu Aku Papua dari Edo Kondologit menceritakan bagaimana kekayaan alam bumi Papua. Papua menyimpan kekayaan alam mineral berupa tembaga, emas, dan perak yang begitu berharga.

"Tanah Papua tanah yang kaya, surga kecil jatuh ke bumi. Seluas tanah sebanyak madu adalah harta harapan," begitu lirik dalam lagu tanah Papua.

Beroperasi di daerah dataran tinggi di kabupaten Mimika, provinsi Papua, Freeport Indonesia memasarkan konsentrat yang mengandung tembaga, emas dan perak ke seluruh penjuru dunia.

Dibalik besarnya kekayaan tanah Papua, ada sekelumit kisah dan cerita Mantan karyawan PT Freeport Indonesia (PTFI) yang mengungkapkan bahwa masyarakat lokal di Papua masih banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Eks karyawan PTFI Yoga Duwarto menceritakan, saat bekerja di PTFI sejak tahun 1988 hingga 1995 sebagai ahli di bidang teknologi informasi, dirinya merasakan hal-hal yang membuatnya kaget.

"Saya agak kaget saat menginjakkan kaki di bumi Papua, pertama kali saya datang saat tengah malam, semuanya gelap, tidak ada lampu. Kemudian saya naik truk besar, setelah berjam-jam perjalanan tiba-tiba saya kaget ada lampu sangat terang dan itu ternyata Tembagapura dengan udara dingin sekali," ujar Yoga saat diskusi PARA Syndicate di Jakarta, Jumat (24/2/2017).

Yoga menjelaskan, dirinya tak pernah menyangka bisa bergabung dengan perusahaan raksasa tambang tersebut. Saat itu Yoga diberikan pekerjaan yang tidak mudah yaitu membuat sistem digital pada pertambangan PTFI di tanah Papua yang minim infrastruktur.

"Tugas saya waktu itu adalah mengatur sistem manual ke komputer, saya harus bangun jaringan telekomunikasi dengan alat-alat yang sangat canggih dan semua disediakan Freeport," kata Yoga.

Fasilitas barak atau asrama yang dilengkapi sarana dan prasarana layaknya apartemen mewah nan canggih  membuatnya kaget ketika mendapatkan fasilitas seperti saat itu.

"Saya diberikan tempat yang bagus, itu adalah fasilitas bagi karyawan yang dikenal dengan barak, kenyamanan seperti apartemen saat ini, semua fasilitas lengkap, listrik ada, baju ada yang cuci, makan silakan. Gaji memang kecil. Tapi tunjangan segudang. Bahkan, ada tunjangan uang dingin," ungkapnya.

Selain itu, Yoga menyebutkan, manajemen atau tata kelola yang dibangun oleh Freeport berjalan sangat baik, dengan menerapkan kedisiplinan yang ketat dan tidak ada pilih kasih tingkat jabatan.

"Tidak peduli jabatan direktur atau tukang sampah, kalau antri ya harus antri. Direktur kalau ada sampah ya diambil. Jadi semua serba teratur. Bahkan ketika masuk ke tambang bawah tanah, satu orang tidak kembali itu ketahuan. Keselamatan kerja hebat. Saya belum bisa menemui, perusahaan besar dengan karyawan sedemikian banyaknya tapi begitu teratur," papar Yoga.

Menurutnya, tingkat keselamatan kerja sangat teratur, dan harus disiplin, karena memang PTFI beroperasi diwilayah yang rawan jika ada kesalahan kerja. "Semua disiplin, karena ketidakdisiplinan di sana akan bahaya, kesalahan kecil bisa fatal," ujarnya.

Akan tetapi, Yoga melihat ketimpangan di bumi Papua dengan segala kelebihan dan kehebatannya itu. Hal yang mewah dan cangih hanya terjadi dalam ruang lingkup perusahaan tambang raksasa dan lokasi tambang, terlihat sangat kontras jika dirinya keluar dan melihat hiruk pikuk masyarakat Papua.

Bahkan, dirinya memiliki kesan yang cukup menggetarkan hati ketika berkenalan dengan pribumi asli Papua yang menganggap pegawai Freeport yang berasal dari luar Papua dinilai sebagai penjajah, meskipun sama-sama orang Indonesia.

"Saya ditanya sama orang Papua. 'bapak dari Jawa kan? Wah bapak penjajah'. Saya kaget. Mereka melihat orang Jawa sebagai penjajah. Saudara-saudara orang Papua selalu menonton kita, setiap hari pemandangan saya seperti itu," jelasnya.

Lama kelamaan, ketimpangan tersebut membuat dirinya resah sehingga memutuskan untuk berpisah dengan bumi Papua dan PTFI.

"Pertanyaannya kenapa keluar? Setiap hari saya makan dengan mudah karena semua tersedia, tetapi di luar, masyarakat rebutan makanan, kelaparan. Kontradiksi itu yang membuat saya tidak nyaman, diskriminasi di sana jelas," ungkap Yoga.

Menurut Yoga, saat itu tidak sulit menemukan orang-orang Papua yang kelaparan dan meminta makanan. Bahkan, jika ada masyarakat yang ketahuan masuk ke dalam kawasan Freeport, akan menerima hukuman.

Penulis: Pramdia Arhando Julianto
Editor : M Fajar Marta
TAG: