Rabu, 23 Juli 2014

Ekonomi / Keuangan

Dana Asing Berhamburan Keluar

Senin, 24 Juni 2013 | 03:54 WIB

KOMPAS/PRIYOMBODO Ilustrasi aktivitas di bursa saham.

Baca juga

JAKARTA, KOMPAS.com — Dana asing ditengarai berbondong-bondong keluar dari pasar saham Indonesia. Aksi jual telah terjadi sejak awal Mei 2013.

Pada perdagangan Jumat (21/6/2013), investor asing telah melakukan net sell  senilai Rp 2,26 triliun. Bila dihitung dari Mei 2013, nilainya sudah lebih dari Rp 19 triliun.

Tak pelak, sejak Mei 2013, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 10,77 persen, dengan penurunan 2,48 persen pada perdagangan Jumat hingga IHSG berada di level 4.515,37.

Gelombang aliran dana keluar dari bursa saham ini membuat net buy di Bursa Efek Indonesia (BEI) menipis. Sampai Jumat, posisi beli bersih investor asing tercatat tinggal Rp 21,3 miliar.

Satrio Utomo, Kepala Riset Universal Broker Indonesia, mengatakan, aksi jual para investor asing masih akan terjadi, apalagi setelah Federal Reserve memberi sinyal akan mengurangi program stimulus di tahun ini dan menghentikannya di tahun depan. "Investor asing sudah mengambil posisi jual untuk jangka panjang," ungkapnya.

Menurut Satrio, posisi net buy investor asing yang hanya tinggal Rp 21,3 miliar pun tidak akan bertahan lama. "Sisa net buy tinggal sedikit, akan habis dalam satu atau dua hari," ujar dia.

Sementara itu, analis First Asia Capital, David N Sutyanto, mengatakan, investor asing saat ini menilai risiko berinvestasi di Indonesia tinggi. Terlebih lagi, indikator ekonomi makro meleset di luar harapan.

Kini, investor asing tengah menunggu data positif dari Indonesia. Sayangnya, menurut David, masih belum ada tanda-tanda data positif, seperti upaya pengendalian inflasi yang diprediksi akan tinggi pasca-harga bahan bakar minyak naik.

"Belum ada data fundamental yang membuat asing akan bertahan atau bahkan masuk," ucap David. Namun, dia masih berharap kinerja emiten pada semester satu tahun ini membaik dan membawa sentimen positif ke pasar domestik.

Menurut David, investor lokal masih belum cukup kuat menahan penurunan IHSG. Soalnya, investor lokal pun tak akan gegabah masuk ke pasar modal dalam kondisi seperti ini. "Risikonya masih tinggi. Jadi harapannya tinggal data-data ekonomi dalam negeri yang bisa membaik," kata dia.

Senada, Reza Nugraha, analis MNC Securities, mengatakan bahwa potensi asing masuk lagi ke pasar saham masih lama. Sebab, return obligasi Amerika Serikat sedang naik sehingga asing memilih memindahkan dana ke sana. Dia memproyeksi, IHSG akan turun ke posisi terendah di level 4.330 dengan resistance di 4.850 agar bisa ke 5.000.

Pilihan saham

Para analis yakin, masih ada beberapa saham yang layak koleksi asal jeli melihat saham potensial. Menurut Reza, masih ada kesempatan untuk membeli saham-saham bluechip yang berkinerja bagus seperti PGAS dan TLKM.

Reza juga merekomendasikan saham-saham yang tahan guncangan, seperti saham sektor farmasi. "(Namun) dalam jangka pendek, jangan dulu pilih saham bank yang bakal banyak terkena dampak keluarnya investor asing," kata dia.

David juga menyarankan investor untuk menghindari saham-saham perbankan yang sedang diobral oleh asing, seperti saham BMRI dan BBRI. Ia meminta investor mencermati saham konstruksi seperti WIKA, PTPP, ADHI, dan saham yang tahan menghadapi inflasi seperti RALS.

Adapun Satrio merekomendasikan saham-saham yang tahan guncangan. Dia menyebutkan rekomendasinya antara lain saham UNVR, ICBP, BSDE, ASRI, dan WIKA. 


Editor : Palupi Annisa Auliani
Sumber: KONTAN