Selasa, 2 September 2014

Ekonomi / Keuangan

Penurunan IHSG dan Rupiah Mirip Krisis 2008?

Selasa, 20 Agustus 2013 | 13:16 WIB
SHUTTERSTOCK Ilustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com - Kondisi pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah dinilai mulai mengarah seperti kejadian krisis pada tahun 2008. Apakah demikian?

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nurhaida mengatakan, saat ini pihaknya sedang mengawasi pergerakan IHSG, termasuk apakah ada kemungkinan menyamai seperti kejadian di tahun 2008. Saat itu, kondisi IHSG merosot mendekati 50 persen.

"Kita tentunya mencermati, tapi tidak memprediksi (tingkat IHSG). Namun kalau kita bandingkan kondisi sekarang, kita tidak berada pada posisi itu (tahun 2008)," kata Nurhaida saat ditemui di kantor Kementerian Keuangan Jakarta, Senin (19/8/2013) malam.

Nurhaida menjelaskan, saat krisis moneter tahun 2008 lalu, memang kondisi IHSG turun mendekati 50 persen dan rupiah sudah menembus level Rp 12.000 per dollar AS. Sedangkan saat ini, IHSG masih turun sekitar 6 persen dan rupiah melemah hingga menembus level Rp 10.600 per dollar AS.

Saat krisis 2008, pemerintah melakukan sejumlah kebijakan seperti memberi kemudahan terutama Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk melakukan pembelian saham kembali (buyback) tanpa harus melakukan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Di sisi lain, pemerintah pun melakukan suspensi perdagangan sementara Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga dua hari untuk mencegah penurunan saham-saham di bursa lebih anjlok lagi.

"Yang penting kita lakukan pengawasan, lihat penyebabnya apa dan kemudian langkah-langkah apa yang harus diambil sesuai ketentuan yang sudah ada kalau terjadi kondisi penurunan seperti dulu," tambahnya.

Untuk sementara, Nurhaida menganggap bahwa pelemahan IHSG disebabkan karena pengaruh kondisi eksternal dan tekanan domestik. Kecuali bila penurunan IHSG melebihi 7,5 persen dalam sehari maka pemerintah akan segera melakukan antisipasi sesuai dengan ketentuan perundang-undangan pasar modal.

"Kita lihat di pasar itu belum ada sesuatu yang perlu dilakukan, kecuali kalau nanti misalnya terjadi penurunan lagi. Kita lihat lagi sampai batas tertentu. Itu semua SOP-nya sudah ada. Itu sudah ada step-stepnya," tambahnya.

Penulis: Didik Purwanto
Editor : Erlangga Djumena