Jumat, 28 November 2014

Ekonomi / Makro

Ekonom: Pernyataan Menkeu dan BI Malah Perburuk Pasar

Rabu, 28 Agustus 2013 | 15:42 WIB
KOMPAS/PRIYOMBODO Gubernur Bank Indonesia Agus D.W. Martowardojo (kanan)Menteri Keuangan Chatib Basri (tengah), dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Armida Alisjahbana bersiap memulai rapat kerja dengan anggota Dewan di Komisi XI, Gedung DPR, Jakarta, Senin (27/5/2013). Rapat tersebut membahas Asumsi Makro RAPBN Perubahan Tahun 2013.

JAKARTA, KOMPAS.com — Pernyataan Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo dan Menteri Keuangan M Chatib Basri terkait perekonomian Indonesia justru membuat pasar bergejolak.

Head of Research Division Universal Broker Indonesia Satrio Utomo menyatakan, ada sejumlah pernyataan dari Gubernur BI dan Menkeu yang membuat pemodal menjadi tidak confidence terhadap perekonomian Indonesia.

"Salah satunya ketika Gubernur BI menyatakan inflasi bisa naik menjadi 8,8 persen karena kenaikan harga BBM. Kemudian pernah juga Menkeu mengatakan inflasi bisa lebih tinggi lagi. Ini kan membuat panik," jelasnya saat berbincang dengan Kompas.com, Rabu (28/8/2013).

Menurutnya, yang diperlukan saat ini adalah bagaimana meyakinkan investor terhadap perekonomian Indonesia.

Dia menjelaskan, dalam kondisi turbulensi seperti saat ini, faktor psikologis sangat dominan dalam memengaruhi keputusan investor. Seluruh informasi negatif akan direspons dengan melepaskan saham-saham di bursa.

"Padahal, ekonomi Indonesia masih cukup baik. Sepanjang inflasi tidak menyentuh dua digit, saya kira wajar dan tidak terlalu dibesar-besarkan," jelasnya.

Dia mengatakan, jatuhnya bursa dan melemahnya rupiah lantaran investor tidak percaya dengan perekonomian nasional. Padahal, secara fundamental, ekonomi Indonesia masih cukup baik.

Sementara itu, Menkeu Chatib Basri juga sempat menyatakan bahwa pelemahan rupiah masih akan berlanjut hingga awal tahun 2014.

Dalam paparannya, Chatib menyebutkan empat faktor eksternal yang akan memberikan tekanan pada rupiah. Pertama adalah kebijakan pengetatan stimulus moneter oleh Bank Sentral Amerika Serikat yang diperkirakan dikeluarkan pada akhir tahun 2013.

Kedua, muncul kekhawatiran investor terhadap perkembangan ekonomi di negara-negara emerging market, terutama China, India, dan Brasil. Hal ini berdampak pada aktivitas transaksi perekonomian di pasar internasional.

Ketiga, gejolak harga minyak dunia akibat gejolak geopolitik beberapa negara produsen di kawasan Timur Tengah. Keempat, mengecilnya selisih suku bunga Bank Indonesia dan suku bunga dunia sehingga membuat investor mulai tertarik untuk mengalihkan modal ke Indonesia.

Akan tetapi, belakangan dia membantah telah mengeluarkan penjelasan itu.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : Bambang Priyo Jatmiko