Selasa, 2 September 2014

Ekonomi / Makro

Dalam 2 Bulan, Utang Luar Negeri Indonesia Naik Rp 82 Triliun

Rabu, 5 Maret 2014 | 20:59 WIB
SHUTTERSTOCK Transaksi dengan menggunakan mata uang asing, terlarang di pasar domestik.

JAKARTA, KOMPAS.com - Dalam dua bulan pertama tahun ini, jumlah utang luar negeri (ULN) Indonesia melonjak cukup tinggi. Berdasarkan data Bloomberg, data ULN dalam bulan Januari dan Februari 2014 bertambah 7,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp 82 triliun. Rinciannya, pemerintah 4 miliar dollar AS yang berasal dari penerbitan global bond pada awal tahun dan utang swasta 3,2 miliar dollar AS.

Utang swasta terbesar datang dari perusahaan taipan milik Chairul Tanjung atau yang dikenal dengan panggilan CT. Pemilik CT Corporate ini tercatat memiliki utang mencapai 2,9 miliar dollar AS dari sindikasi perbankan.

Jika ditarik ke belakang, ULN sektor swasta terus meningkat porsinya. Berdasarkan data yang dirilis Bank Indonesia (BI), porsi utang swasta di 2013 mencapai 53,21 persen atau naik menjadi 140,51 miliar dollar AS. Sebelumnya di 2012, porsi utang swasta 126,25 miliar dollar AS atau sebesar 50 persen dari total utang.

Ekonom Samuel Asset Manajemen Lana Soelistianingsih menilai, kenaikan pada utang sektor swasta merupakan hal yang sah-sah saja. Namun, Bank Indonesia (BI) dan pemerintah harus waspada kalau ada perusahaan yang pendapatannya dalam rupiah lalu berutang dalam dollar.

Lana menyatakan, jika perusahaan yang pendapatan dan utangnya sama-sama dalam dollar AS tidak jadi masalah karena sudah terjadi hedging alias lindung nilai secara alamiah. Swasta harus punya hedging untuk mengamankan risiko dari nilai tukar.

Di sisi lain harus ada batasan seberapa besar perusahaan swasta bisa berutang. "Tiga kali dari modal yang dia punya. Tidak bisa lewat," ujar Lana, Rabu (5/3/2014).

Jika batasan itu terlewati, dikhawatirkan utang tadi akan berada di luar kontrol perusahaan. Sebab, utang di luar bank tidak ada yang mengatur.

Menurut Lana, seharusnya swasta mempunyai deposit valuta asing (valas) dalam negeri sebesar tiga kali lipat dari bunga dan cicilan pokok. Kalau ada kondisi krisis di dalam negeri maka deposit tersebut bisa digunakan. (Margareta Engge Kharismawati)

Editor : Bambang Priyo Jatmiko
Sumber: Kontan