Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kasus Century, BI "Keukeuh" Tahun 2008 Ada Krisis

Kompas.com - 18/07/2014, 07:47 WIB
Estu Suryowati

Penulis


JAKARTA, KOMPAS.com
– Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Mirza Adityaswara keukeuh keputusan Bank Indonesia dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) mengenai pemberian fasilitas pendanaan jangka pendek (FPJP) kepada Bank Century pada 2008, dikarenakan terjadi krisis. Dia pun menyesalkan keputusan Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi.

“Bagi BI dan KSSK tahun 2008 itu ada krisis, karena memang krisis berasal dari Amerika,” katanya ditemui setelah rapat Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan  (FKSSK), di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (17/7/2014).

Memang, lanjut dia, harus dilihat lagi apakah besarnya krisis pada waktu itu sebesar krisis yang terjadi pada 1998. Hanya saja, kata Mirza, sudah menjadi tugas dari bank sentral dan Kementerian Keuangan untuk mencegah supaya krisis tidak menjadi lebih besar.

“Masak kita mau supaya benar-benar jadi seperti 1998? Kan itu namanya tidak bertanggungjawab,” ucapnya.

Mirza pun secara pribadi menyarankan kepada awak media untuk menanyakan kepada para pakar perbankan apakah pada 2008 betul-betul terjadi krisis. “Yang jelas, di kuartal IV-2008 itu kalau AS itu harus membailout banyak bank besar di sana. Dan AS bahkan harus menurunkan suku bunganya dari 5 persen jadi 0,25 persen,” jelasnya.

Hal tersebut, lanjut Mirza, menunjukan bahwa ada krisis besar yang terjadi di Amerika Serikat. Dan sebagai negara ekonomi besar di dunia, imbasnya akan berpengaruh ke seluruh negara di dunia.

“Paling gampang, lihat saja kurs rupiah di akhir tahun 2008. Itu kan kurs rupiah dari Rp 9.000 per dollar AS ke Rp 13.000 per dollar AS,” tukasnya.

Sebelumnya, mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia Budi Mulya divonis 10 tahun penjara dalam kasus korupsi Bank Century. Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta juga menghukum Budi dengan denda Rp 500 juta subsider 5 bulan kurungan penjara.

Hakim, Afiantara menyatakan, pemberian FPJP kepada Bank Century tidak berdasarkan iktikad baik karena tidak dilakukan dengan analisis mendalam. Bank Century tetap diberikan FPJP padahal tidak memenuhi persyaratan mendapat FPJP.

Pemberian FPJP itu pun, menurutnya, bertujuan untuk menyelamatkan dana Yayasan Kesejahteraan Karyawan (YKK) BI. Berdasarkan fakta persidangan, hakim menyatakan pemberian FPJP juga tidak terkait untuk mencegah krisis global. Kesulitan likuiditas Bank Century dinilai karena adanya masalah di bank tersebut sejak tahun 2005.
baca juga: "Bailout" Century, Sri Mulyani Ternyata Telah Kabari JK?

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Apa yang Dimaksud dengan Inflasi dan Deflasi?

Apa yang Dimaksud dengan Inflasi dan Deflasi?

Earn Smart
Gampang Cara Cek Mutasi Rekening lewat myBCA

Gampang Cara Cek Mutasi Rekening lewat myBCA

Spend Smart
Penurunan Yield Obligasi Tenor 10 Tahun Indonesia Berpotensi Tertahan

Penurunan Yield Obligasi Tenor 10 Tahun Indonesia Berpotensi Tertahan

Whats New
Gaji ke-13 untuk Pensiunan Cair Mulai 3 Juni 2024

Gaji ke-13 untuk Pensiunan Cair Mulai 3 Juni 2024

Whats New
Masuk ke Beberapa Indeks Saham Syariah, Elnusa Terus Tingkatkan Transparansi Kinerja

Masuk ke Beberapa Indeks Saham Syariah, Elnusa Terus Tingkatkan Transparansi Kinerja

Whats New
Pesawat Haji Boeing 747-400 Di-'grounded' Pasca-insiden Terbakar, Garuda Siapkan 2 Armada Pengganti

Pesawat Haji Boeing 747-400 Di-"grounded" Pasca-insiden Terbakar, Garuda Siapkan 2 Armada Pengganti

Whats New
ASDP Terus Tingkatkan Peran Perempuan pada Posisi Tertinggi Manajemen

ASDP Terus Tingkatkan Peran Perempuan pada Posisi Tertinggi Manajemen

Whats New
Jaga Loyalitas Pelanggan, Pemilik Bisnis Online Bisa Pakai Strategi IYU

Jaga Loyalitas Pelanggan, Pemilik Bisnis Online Bisa Pakai Strategi IYU

Whats New
Bulog Targetkan Serap Beras Petani 600.000 Ton hingga Akhir Mei 2024

Bulog Targetkan Serap Beras Petani 600.000 Ton hingga Akhir Mei 2024

Whats New
ShariaCoin Edukasi Keuangan Keluarga dengan Tabungan Emas Syariah

ShariaCoin Edukasi Keuangan Keluarga dengan Tabungan Emas Syariah

Whats New
Insiden Kebakaran Mesin Pesawat Haji Garuda, KNKT Temukan Ada Kebocoran Bahan Bakar

Insiden Kebakaran Mesin Pesawat Haji Garuda, KNKT Temukan Ada Kebocoran Bahan Bakar

Whats New
Kemenperin Pertanyakan Isi 26.000 Kontainer yang Tertahan di Pelabuhan Tanjung Priok dan Tanjung Perak

Kemenperin Pertanyakan Isi 26.000 Kontainer yang Tertahan di Pelabuhan Tanjung Priok dan Tanjung Perak

Whats New
Tingkatkan Akses Air Bersih, Holding BUMN Danareksa Bangun SPAM di Bandung

Tingkatkan Akses Air Bersih, Holding BUMN Danareksa Bangun SPAM di Bandung

Whats New
BEI: 38 Perusahaan Antre IPO, 8 di Antaranya Punya Aset di Atas Rp 250 Miliar

BEI: 38 Perusahaan Antre IPO, 8 di Antaranya Punya Aset di Atas Rp 250 Miliar

Whats New
KAI Services Buka Lowongan Kerja hingga 25 Mei 2024, Simak Kualifikasinya

KAI Services Buka Lowongan Kerja hingga 25 Mei 2024, Simak Kualifikasinya

Work Smart
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com